Diversity


Kalau boleh jujur saya malas nulis ini, tapi kemarin malam gak tau kenapa rasanya hati ini sakit, lebih sakit dari sariawan yang di tetes abotil (kebetulan lagi sariawan).

Awalnya saya cuek dan memutuskan untuk simpan kesedihan dan amarah saya dalam doa, karena saya merasa tidak baik juga berdebat untuk hal sensitif seperti ini, dan saya selalu menghindari jika ada teman-teman yang membicarakan soal kepercayaan dengan keras. Lebih baik saya menyimpan sakit hati dan kesedihan saya lewat doa. Tapi kali ini paling tidak saya harus mencurahkan dalam tulisan ini, karena kebanyakan “silent reader” if you don’t like it just close and get out. Peringatan tulisan ini cuma buat orang yang bisa membuka pikirannya, kalau merasa otaknya sumbu pendek kaya saya mending ga usah terusin baca

Pagi itu para jaksa penuntun umum dan puluhan kuasa hukum pak Ahok masuk kedalam ruang sidang. Kursi sidang terisi sudah penuh, jauh di luar terdengar ricuh suara “ahok kafir, ahok kafir” kemudian Ahok memasuki ruangan sidang dengan baju batik berwarna coklat setelah itu hakim membuka persidangan dengan meminta jaksa penuntut umum membacakan dakwaan yang selama ini seperti di beritakan di media yaitu penistaan agama tepatnya dalam salah satu penggalan ayat suci alqur’an dalam surat al-maidah . Setelah dakwaan selesai di bacakan Ahok membacakan pernyataan tidak bersalahnya dengan menceritakan perjalanan karirnya di bidang politik mulai dari sekedar pengurus partai sampai dengan jadi gubernur di jakarta serta tak lupa menceritakan apa yang sudah dia jalankan dan kerjakan selama menjadi gubernur, salah satunya pembangunan mesjid-mesjid (yang anehnya saya gak dengar dia bangun gereja? correct me if i’m wrong) yang paling bikin saya sedih ketika melihat live streaming nya ketika beliau berkata dengan nada yang berat dan lirih “Bagaimana mungkin saya menista agama ayah angkat saya? Ayah angkat dan saudara saya yang sangat saya hormati?”

Ketika saya menonton live streaming tersebut saya hanya dapat berharap semoga pak Ahok diberikan kekuatan dan kesehatan untuk menjalani semuanya, walaupun tulisan ini bukan untuk saya mendukung pak Ahok untuk menjadi gubernur atau saya menjadi salah satu rekanan politik, man i’m too busy to draw and design some cute stuff for politic, mending maen plant vs zombie sampe ketiduran daripada ikut kegiatan politik (anaknya ansos juga soalnya),dan saya sama sekali bukan pendukung pak ahok atau yang lainnya, boro-boro milih atau nyumbang ktp, ktp aing mah Bogor.

Trus ngapain sih kalau bukan ktp jakarta misuh-misuh? yeeee daripada yang misuh-misuh di Lampung atau yang tinggal di Riau sana, atau yang ke Jakarta cuma buat belanja di mangdu ato tanaabang doang?

Well, saya simpatik sebagai seseorang yang sama-sama tumbuh besar dengan keluarga besar dari pihak ibu saya yang memang berbeda kepercayaan. Mendengar teman-teman sebangsa dan se-agama selalu menyuarakan kebencian yang bikin saya sedih kebanyakan diantara mereka adalah Saudara, guru sekolah, sahabat SMP dan SMA teman hahahahihi, cowok yang pernah naksir saya.Oooppss..untuk  yang terakhir membuat saya paling bersyukur Ternyata selain tampang jelek hatinya juga jelek pantes aja saya tidak merasa Tuhan membujuk saya untuk membuka hati dulu sama dia..yeah you were such a jerk.

Bukan mau panas-panasin tapi saya pribadi jujur kecewa dengan teman dan guru saya yang seharusnya bisa mendamaikan malah menanggapinya dengan dingin dan keras. Penistaan terhadap kitab suci manapun memang salah, tapi harapan saya kita bisa menanggapinya dengan bijak, sudah cukuplah demo yang merisaukan banyak orang. I think forgiveness is such an expensive thing these days.

“In every religion you will see the same extremist”  -Marjane Satrapi-

Long story short di belahan dunia sana tepatnya di daerah southern America sana dimana penduduk muslim nyaris tak ada, tetapi jika ada perlakuan yang mereka dapat tak jarang seperti ini “f*** you Taliban, go back to your country!” atau ketika setelah peristiwa  9/11 salah satu teman saya yang saat itu ikut ayahnya bekerja di New York, ketika sedang berkunjung di salah satu mall dia coba menanyakan letak toko, teman saya yang memang berjilbab malah mendapat jawaban “i should not talk to terrorist”

Nah, agak sedikit ngingetin saya sama yang suka teriak-teriak kafir disini. Sedikit cerita waktu saya sering ngumpul sama teman-teman yang notabene pelayanan aktif di gereja katolik, dan saya banyak di kenalkan sama teman mereka di komunitas itu, ada salah satu anak yang bertanya sama saya “you are so nice, kamu gak awkward berada di antara kita yang beda sama kamu?” lalu aku jawab “why would i? you guys are so nice also, di luar sana banyak muslim yang menjadi minoritas dan mereka struggle untuk mendapat perlakuan baik, saya cuma mau berbuat baik sama siapa aja dengan harapan mereka yang struggle bisa mendapatkan perlakuan yang lebih baik juga disana”

Kalau melihat dari sejarah, ya memang agama dan ras adalah isu yang paling gampang untuk memecah belahkan kita. Saya jadi teringat kata guru saya menjelang hari natal kepada kami “Untuk yang non-muslim jangan baper kalau ada teman muslim yang tidak mengucapkan selamat, karena itu benar untuk sebagian muslim dan untuk yang muslim jangan pernah maksa teman yang muslim juga untuk jangan mengucapkan selamat ke yang non-muslim kita tidak pernah tau niat baik seseorang” dan itu saya ingat terus sampai sekarang dan saya selalu jelaskan kalau ada teman yang non-muslim yang baper karena ga diucapin selamat natal sama rekan yang muslim. Kalau Dini ngucapin gak?! ya nggak laaah!!  ini masih 14 desember cui! *plak*

If You Cannot be Nice just be Quite

Sebagai orang yang otaknya dan ilmu agama nya masih sepanjang sumbu kompor, tentu saya mencoba ambil hikmahnya, karena penasaran saya buka al-qur’an baca terjemahan bahasa indonesia karena saya ga isa bahasa arab dan ternyata selain surat al-maidah ada surat al-hujarat yang agak menyentil kita… uwooww jleb *ya silahkan baca sendiri*

Intinya saya sedih dikarenakan pernyataan kebencian banyak hadir dari keluarga dan teman-teman saya sendiri, yang memberi kesan bukan untuk mengingatkan sesama muslim tapi cuma merasa karena dia merasa lebih islam dan lebih baik, pernah saya men-share suatu hadist dan pernyataan salah satu ulama besar dan pintar, sudah profesor malahan lalu beberapa teman men-DM saya mengatakan kalau saya ikutin aliran sesat dan pengikut syiah, Lhaaaaa becareful what about what you say, my pal.

Despite all of these madness, masih banyak teman-teman ,guru, serta dosen saya sesama muslim yang menerima perbedaan ini dengan pikiran terbuka, banyak dari mereka yang sudah sering ikut diskusi lintas agama, beberapa ada juga yang sudah pernah tinggal di luar negeri ikut berjuang bersama kaum minoritas disana, sisanya travelling keliling Indonesia, Eropa, bahkan Amerika untuk mengembangkan kualitas diri mereka (terimakasih forum backpacker internasional). Orang-orang positif ini yang membuat saya percaya kalau dunia ini belum akan runtuh dan akan terus berputar. There’s still hope! a good hope!

Apapun kepercayaan yang kalian pegang, I love you! *asal ga nyakitin orang ya*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s