Morin….

“Morin sayang kakak!” seru Morin dalam dekapan papa Daniel ketika melepasku di bandara yang hendak melanjutkan kuliah ke negeri paman sam belasan tahun silam, usianya masih menginjak sekitar 7 tahun pada saat itu. Sulit dijelaskan bagaimana sebenarnya hubunganku dengan Morin. Bisa dikatakan bahwa Morin adalah adikku walau kita tidak lahir dari rahim yang sama bahkan sebenarnya kita tak punya hubungan darah. Semua itu jelas terlihat dari perbedaan wajah kami, adikku berwajah indo-oriental sedangkan aku berwajah setengah eropa warisan ayahku. 

Kami dipertemukan berkat pernikahan kedua orang tua kami. Ayahku telah lama meninggal dalam kecelakaan pesawat ketika aku berusia 9 tahun sedangkan Morin sudah kehilangan ibunya ketika melahirkannya. Papa Daniel, ayah Morin adalah figur ayah tiri yang baik, hampir semua yang aku cari ada pada beliau, aku menyayanginya sama seperti orang tua kandungku sendiri. Hidupku kembali lengkap pada saat itu.

“ayoo Morin…kenalan dulu sama kak Mario, mulai sekarang Morin punya kakak” Papa Daniel mencoba mengenalkanku dengan anak kecil berumur 2 tahun untuk pertama kalinya, dan anak kecil perempuan lucu itu mencium tanganku dengan ekspresi malu-malu. Aku tak pernah membayangkan bisa berada didekat anak kecil seumur hidupku tetapi ketika melihat Morin aku yakin semuanya akan menjadi lebih baik. Akhirnya mama menikah dengan papa Daniel ketika usiaku 14 tahun. 

Kehidupan kami berjalan begitu mulus, walau mama sudah di vonis tidak bisa memiliki anak lagi. Tak mengapa bagi mama karena kehadiran Morin mengobati kerinduannya akan anak perempuan. Morin tumbuh menjadi anak yang selalu membawa keceriaan sendiri di rumah kami. Aku dan Morin juga cukup dekat walau jarak usia kami terpaut cukup jauh yaitu 12 tahun, aku dan Morin menjadi lebih terbilang sebagai teman. Aku mengajarinya membaca dan menulis, mendengarkan semua cerita dari imajinasi absurdnya, dan juga mengajarinya menggambar. Dan dia selalu mengagumiku bermain musik, iseng menggelitiku tiba-tiba ketika aku belajar. Terimakasih Tuhan hidupku indah.

Namun ternyata kehidupan bahagia itu berlangsung tidak lama. Mama, ibu kandungku menderita kanker rahim stadium akhir dan akhirnya meninggalkan kami bertiga. Cukup membuat kami semua sedih begitu dalam karena kami sudah terbiasa terbuai dengan kebahagiaan semuanya tiba-tiba seperti petir yang menyambar tepat di hati kami. Morin tak kalah sedihnya karena seorang ibu yang dia tahu hanyalah mama, ibu kandungku. Terlalu muda untuknya untuk mengerti kematian orang yang sangat disayanginya terutama untuk kedua kalinya. Untuk mengalihkan hancurnya hatiku aku lebih memilih untuk melanjutkan hidupku untuk membuat papa dan Morin bangga dan bahagia. Aku jalani hari-hariku se-normal mungkin walau masih ada lubang dihati ini, aku mengalihkan kesedihanku dengan belajar, berpergian dan menjalani hobi bermusikku dengan teman-teman sepemikiran. Morin sepertinya juga tidak membiarkan dirinya larut dalam kesedihan, ia tumbuh menjadi gadis kecil yang cukup mandiri, ia gemar melukis, dan senang bergaul agak sedikit tomboi memang. Teman-temanku yang sering datang kerumah kami senang berbicara padanya kata mereka Morin anak yang memiliki sixth sense karena pribadinya yang aneh dan unik. Suatu hari dia bertanya.

“Kak Rio, aku juga ingin punya kakak perempuan seperti kak nina atau kak lisa juga boleh” aku hanya tersenyum mendengar celutukannya tak tahu darimana ia belajar berkata seperti itu. Seumur hidupku aku belum pernah terpikirkan untuk memiliki pacar. Aku memiliki banyak teman perempuan tetapi tak pernah terbesit dalam pikiranku untuk menjadikan mereka teman spesial.

Tepat beberapa tahun lalu aku ingat ketika aku lulus dari SMA dan beruntung aku mendapatkan beasiswa penuh untuk kuliah arsitektur ke luar negeri. Ada rasa bangga karena berarti aku tidak perlu merepotkan papa dan tak sabar untuk sebuah pengalaman yang baru, tetapi tetap aku tidak bisa memikirkan Morin yang sudah memasuki usia sekolah dasar. Aku teringat semalam sebelum kepergianku. Morin mengetuk kamarku ketika aku sedang terlelap.

“kak, aku tidak bisa tidur,mau kamu temani aku kak?”

“kenapa kamu tidak ketempat papa saja dek, besok aku harus bangun pagi” kedua mata itu menatapku memohon. aku tak tega. “ya sudah..masuklah”

“Kak apa kamu juga akan tinggalin aku seperti mama?” 

“hussh..ngomong apa sih kamu! ayo cepat tidur”

“jangan tidur dulu kak..aku masih mau kamu disini..karena besok kamu sudah tak ada..kata papa amerika itu jauh..apakah amerika itu dekat dengan surga, tempat mama? aku tak mau kamu dekat-dekat kesitu, jauh! pasti nanti kamu tidak kembali lagi seperti mama” Begitulah Morin ucapannya tak suka terduga.

“hahaha anak bodoh, tidak dua tempat itu jauh..sangat jauh malahan..suatu saat kau juga mengerti..”

“kalau begitu aku ikut kau ke amerika, boleh?”

“kau tidak boleh malas belajar dulu dek, baguskan dulu nilai sekolahmu jangan bikin papa memarahimu terus karna nilaimu buruk”

“aku bosan belajar kak, aku takut bosan dirumah tidak ada kamu”

Aku mengelus dan mencium keningnya kemudian aku memeluknya seperti seorang sahabat yang tak mau berpisah. Malam itu sebagian hatiku masih ingin menjaga Morin disini. Tapi Morin pasti akan terbiasa. Aku yakin dia tumbuh menjadi anak yang kuat.

**************************************

San Fransisco, Juni 2003 

Akhirnya aku lulus dari universitas 4 tahun yang lalu, sebagian teman-temanku yang orang Indonesia memilih untuk pulang saja. Tetapi untuk saat ini aku tidak memiliki banyak pilihan karena terlanjur suka dengan pekerjaanku disini semenjak aku bekerja aku tidak pernah kembali lagi ke Indonesia, hadiah ulang tahun tak pernah absen aku kirimkan untuk Morin. Morin kecewa dengan pilihanku dan sering mendiamkanku. Morin yang sekarang lebih keras kepala. Wajar, ayah Morin, papa.. sudah menikah lagi dan memiliki 2 orang anak tetapi sepertinya Morin tidak begitu cocok dengan mereka. Morin mungkin merasa tidak diperhatikan. Dunia kami yang berbeda membuat intensitas komunikasiku dengan Morin menjadi tersendat kecuali sebuah sepatah dua patah kata darinya melalui pesan instan seperti,

“Hey kau dimana kak? ujiannya susah sekali! aku stres mengerjakannya” atau  “kak, aku jatuh cinta..kau janji ya tidak cemburu? hahaha”

Pesan-pesan singkat yang selalu mewarnai hari-hariku atau terkadang ketika dia tidak mengabariku aku terkadang yang menanyakan kabarnya “Morin, engkau sehat dek?” atau “laki-laki mana lagi yang membuatmu tak mau berkirim pesan denganku” 

Jika ada suatu hubungan lebih dari sebuah hubungan sahabat tetapi bukan kekasih mungkin itulah yang menggambarkan hubungan kami saat ini. Tetapi tunggu dulu..berbicara soal kekasih akupun belum pernah menjalin hubungan dengan perempuan manapun. Aku memang lebih memilih menghabiskan waktu bersama teman-teman priaku di akhir pekan. Aku pernah dekat dengan segelintir wanita tetapi entah kenapa pada akhirnya mereka menjauh. Mungkin ada yang salah denganku.

*********************************************************

Jakarta 2008

Morin, kau anak yang aneh…sengaja aku mengundurkan diri dari pekerjaanku di San Fransisco dan memilih menjadi salah satu dosen ditempatmu kuliah. Tak lain untuk menjagamu dan membayar semua waktu yang pernah hilang diantara kita. Tahukah kamu Morin rasa ini semakin tak karuan. Aku senang kembali ke Jakarta 2 tahun yang lalu melihatmu tumbuh menjadi gadis manis yang mandiri dan kuat. Aku ingat ketika kau lari dari rumah papa dan pergi ke apartemenku menembus hujan deras. Aku membukakan pintu dan kau muncul dengan basah kuyub dan mata sembab. Tetapi kau malah tersenyum ceria. senyum yang sama seperti kita pertama kali bertemu dulu. 

“aku sedang patah hati, boleh aku tinggal?”  ucapmu malam itu, aku tak banyak bicara hanya menyuruhmu masuk cepat menyuruhmu berganti pakaian dan memberimu susu hangat. Papa sudah bercerita kepadaku kalau kau hampir di drop out dari kampus karna nilai-nilaimu, (aku juga kaget kenapa papa mendesakmu untuk belajar arsitektur sepertiku kau lebih berbakat menjadi pelukis) dan hubunganmu dengan ibu tirimu yang tidak terlalu baik.

Malam itu kau memintaku untuk menemanimu tidur sama seperti sebelum aku berangkat ke Amerika dulu. Aku mengiyakan walau sekarang kamu sudah menjadi wanita, kita sudah sama-sama dewasa bahkan aku lupa kalau kita adalah kakak-adik, aku mendekapmu seakan aku tak akan meninggalkanmu lagi. Kau tak kalah memelukku erat meminta perlindungan. Aku yakin banyak yang telah kau lewati selama tidak ada aku. Aku bukan kakak yang baik. Tetapi malam itu aku merasa lebih baik dari malam-malam sebelumnya. Aku merasa lebih baik. Ada sesuatu dalam hati ini dan tentu juga denganmu. Aku tidak tahu tetapi aku akan mencari tahu segera. Rasanya aku tidak sabar untuk mengetahuinya

*************************************

Jakarta Sekarang

Tetapi tetap dari semua rasa kagumku dengan Morin ada yang tidak aku suka seperti malam ini. Morin mengajakku bertemu disuatu tempat favorit kita, katanya untuk merayakan kelulusan masa studinya. Aku yakin tak mudah pula untuk ia menyelesaikannya,tapi aku bangga dengannya. Malam ini Morin terlihat lebih cantik dari sebelumnya. Kau terlihat semakin dewasa wajahmu lebih tenang dan lembut, sekali lagi masih sama seperti pertama kau kecil dulu.

Kemudian se-sosok wanita cantik yang keliatannya hanya beda beberapa tahun dibawahku, kau mengenalkanku pada wanita itu. Bukankah malam ini seharusnya untuk kita berdua? bukankah harusnya malam ini aku….ah sudahlah. Semua itu memang tak mungkin caramu menunjukkan semuanya karena kamu memang melihatku sebagai kakak tak lebih.

Kau meninggalkanku berdua dengan wanita itu menghilang entah pergi kemana lagi. Semua yang aku bayangkan sebelumnya buyar. Mungkin sudah saatnya aku melepas bayang-bayangmu.

Aku dengan wanita itu terlibat pembicaraan seru

“i think it’s possibly maybe i’m fallin for you” ucapku spontan pada wanita itu. Walau aku kadang masih berharap denganmu aku mengatakan itu,

Morin.