Caby oh Cab in the middle of Jakarta traffic today = pathetic!


Seharusnya saya bukan menulis tentang ini sekarang melainkan mengerjakan deadline untuk design buku bayi dan menyelesaikan cerpen fiksi saya yang bertemakan cinta-cintaan najis bin tak jelas itu (mulai keluar aslinya). Ok fokus dulu..mumpung masih segar dalam ingatan saya tentang kejadian yang kurang mengenakkan yang baru saja saya alami malam ini dalam perjalanan menuju kos-kosan.Jadi pembaca setia atau yang suka baca diam-diam blog saya 😛 kali ini kita santai tapi serius karena demi kepentingan bersama juga.

Jadi tadi tepatnya pukul 8 lewat malam hari di jalan kemang raya tepatnya depan McD saya hendak pulang ke kemanggisan, karena sudah malam saya memutuskan untuk naik taksi Express. Yeah I have to say that i used to trust  this cab (sebelum kejadian ini) because it’s much cheaper than bluebird taxi but they’ve got same good quality (ya walau masih bluebird diatasnya). Tadinya saya mau naik bluebird tapi karena tidak ada yang lewat karena kebetulan jalanan juga lagi macet dan saya ingin pulang maka naiklah saya di taksi ini. Supir taksinya menanyakan saya mau kemana dan saya menjawab tujuan saya lalu dia sempat bercerita kebetulan dia juga mau ke bandara yang juga searah dengan jalan tempat saya tinggal. Saya pikir tadinya tidak akan ada masalah malah kami sempat berbincang dengan baik. Ditengah jalan tiba-tiba si pak supir menanyakan lagi arah tempat biasa saya lewat..saya jelaskan padanya sekilas seperti tidak ada masalah..Ok..namun tiba-tiba disekitar jalan senayan (dekat yang jual tanaman) dia berkata kalau dia tidak sanggup lewat jalan tempat saya tinggal dengan alasan sering macet dan dia mau menjemput orang tuanya segera di bandara yang kemudian malah menepikan taksinya dan menyuruh saya naik taksi dengan “label” sama yang kebetulan sedang “ngetem” dibelakangnya…tapi tetap saya merasa “What the hell you’re freakin (un)profesional! Lo bukan angkot yang bisa seenaknya pindah-pindahin penumpang kemana etika supir taksi itu?!” dan si supir minta maaf pada saya dan menyuruh saya untuk tidak membayar full, harusnya hampir 30rb tetapi saya cuma diminta 20rb (padahal tadinya berniat tidak mau bayar karena kesal melihat gayanya sengak, tapi saya tahan). Saya tetap tenang walau secara tidak langsung dia telah menurunkan saya dipinggir jalan tapi tetap hati ini kecewa atas ke tidak profesionalan si supir taksi itu bahkan saya membanting pintu sebagai ucapan terimakasih saya.

Setelah itu sayapun naik taksi yang supir taksi pertama tunjuk untuk mengantarkan saya pulang. Diperjalanan si supir taksi kedua ini menanyakan apakah jarak dari sini (senayan) kerumah saya memakan waktu 15 menit, lalu saya bilang kalau lewat jalan palmerah melalui hotel mulia saya rasa tidak lama paling macet angkot. Ia lalu becerita “mudah-mudahan masih sempet ya neng…soalnya tadi saya janji jemput sama orang di apartemen senayan jam 9 dan itu udah stengah 9..dia cerita katanya dia lagi ada masalah sama suami nya yang tinggal di bogor udah 5 tahun katanya menikah tapi dia (istrinya) yang banting tulang” saya hanya jawab “oh..” dalam hati perasaan mulai tidak enak alamat diturunin lagi di jalan. Si bapak supir taksi kemudian bercerita lagi “iya neng..saya sih tahu kalau dia di apartemen itu sama orang asing” tidak gitu ngerti..makhluk mars kali ya apa siluman kera? *pret mulai sarap* lalu ia nyambung lagi “saya tuh nungguin dia dari jam 7  malam karena dia belom bayar argo sebelumnya juga neng” perasaan mulai gak enak dan kasian juga si pak supir sih. Sayapun mulai menyiapkan beberapa lembar uang sepuluh ribuan (padahal argo belum sampai 10rb pun) sebagai balasan untuk si bapak kalau dia nanti anterin saya ke kos-kosan dengan selamat 🙂 dan beberapa lembar itu uang adalah uang terakhir saya di dompet karna tadinya saya pikir tidak apa-apalah toh si bapak ini udah mau berkorban.

“neng saya turunin neng di lampu merah di depan sana aja ya?”…”lampu merah yang di palmerah depan maksud bapak?”…bukan yang di depan perempatan situ (deket kampus widuri). Dalam ati Oh God itu kan masih jauuuhhh dan malam pula dan macet daaann tidak terlihat angkot m11 (yang lewat tempat saya tinggal) itu melintas di sekitar situ yang ada cuma m09 yang arah ke kebayoran lama. Saya menengok kebelakang sambil memastikan apakah ada M11 di belakang situ? samar-samar saya lihat ada. Saya berdoa semoga angkotnya tidak terlalu “sunyi” atau berkaca gelap (kejadian alm. Livia alumni binus yang tragis karena angkot beberapa waktu lalu cukup bikin trauma banyak anak cewe di binus). Sementara si supir taksi terus mengeluh akan macet akhirnya tanpa pikir panjang saya minta turun disitu juga (di tepi Jakarta Post). “Beneran neng turun disini aja?..karena deket neng gak usah bayar deh..maaf ya neng soalnya cewe yang tadi saya ceritain belom bayar argo 80rb neeng, dan dia bilang kalau jam 9:15 gak jemput saya ditinggal”…saya gak bisa mikir karena merendam kesal sambil memasukkan kembali uang-uang yang harusnya saya kasih ke supir kedalam tas dan si supir taksi mau putar balik ke senayan lagi, saya setengah teriak “Pak Jangan di puter saya mau turun disini aja!” si bapak terus minta maaf dan bilang terimakasih. Saya cuekin. Akhirnya saya menyetop angkot m11 yang syukurnya gak gitu kosong ataupun penuh, didepannya ada 1 orang terus di belakang 3 ibu-bu dan 2 laki-laki muda yang juga baru pulang kerja beruntungnya saya ganteng pula dua-duanya (biarin aja kesempatan dalam kekesalan).

Akhirnya saya turun di depan persis kosan. Bayar angkot dan langsung bilang makasih sambil senyum sama supir angkotnya. Si bapak supir angkot bingung karna saya tidak ambil kembalian recehan yg ia sodorkan :).  Jalan di Jakarta memang tidak bisa di prediksi. Kalau macet itu memang udah resiko tinggal di ibukota. Saya tidak ada masalah sama kota ini selain dari kemacetan dan tingkah laku manusia-manusia pengendara kendaraan itu sendiri. Mau menggunakan kendaraan itu merupakan pilihan dan sudah ada resiko nya masing-masing. Tidak selamanya naik angkutan umum itu bahaya, tidak selamanya naik kendaraan umum tapi eksklusif (taksi) itu aman, dan tidak semua naik kendaraan pribadi juga nyaman dan aman. Yang paling penting disini kerja sama  kita sesama pengguna jalan umum untuk lebih sabar. Naik kendaraan umum pun mau eksklusif atau non eksklusif seperti angkot dan bis kota sebenarnya punya cerita sendiri ya contohnya seperti  saya ini. Tulisan ini hanya wujud aspirasi saya sebagai pengguna kendaraan umum terutama taksi (khususnya taksi dengan label diatas) betapa etos kerja dan profesionalitas sebagai seorang supir dengan nama label taksi yang cukup terkenal dan cukup baik kali ini cukup buruk di mata saya. Apa jadinya saya kalau tadi berjalan kaki lebih jauh di malam hari?. Saya tidak akan melaporkan 2 supir taksi itu karena menurut saya hari ini mereka sudah cukup sial dengan berkali-kali karena ketidak profesionalan mereka. Saya harap kepada pemilik atau manajer utama dari  perusahaan taksi yang bersangkutan memberi tahu kepada seluruh supir taksi yang ada untuk lebih menyadarkan bahwa mereka di bayar untuk mengantarkan penumpang dengan selamat jika memang tidak bisa mengantar saat itu juga sebaiknya tidak usah membiarkan penumpangnya naik duluan dan sok-sokan mengestimasi waktu perjalanan yang lebih memalukan adalah  alasan menurunkan penumpang yang saat itu sedang naik adalah untuk menjemput orang tua di bandara dan menunggu penumpang yang saya yakini cantik itu selesai dengan “urusan” nya bersama orang asing di apartemen.

Dan sekali lagi untuk semua pemilik dan kepala manajer perusahaan taksi dan terutama taksi Express (maaf sebut merk karena memang kali ini paling mengecewakan) tolong di ingatkan kepada para supir kalau penumpang taksi bukanlah “penumpang” tetapi customer yang menaruh kepercayaan pada taksi-taksi . Bukan sekedar uang yang kami bayar untuk membalas jasa taksi “brand” kalian yang telah mengantarkan kami tetapi lebih dari itu: Kepercayaan. Jangan memperlakukan kami seolah kami tak mau bayar (kecuali supirnya yang minta).

Ini juga menjadi pelajaran untuk saya dan mungkin juga yang lain yang memiliki pekerjaan untuk belajar profesional dan bertanggung jawab atas pekerjaan kita masing-masing apapun itu pekerjaannya. Dari sini saya belajar kalau dikecewakan karena suatu pekerjaan itu juga tidak kalah menyakitkan seperti patah hati :p

Sekian postingan santai tapi serius ini. Tidak ada bermaksud menyinggung tapi lebih mengingatkan demi kepentingan bersama. 🙂

Oh ya..untuk kepada 2 supir taksi yang menurunkan saya dijalan tadi yang terus-terusan meminta maaf. Kalau masalah maaf saya pasti maafin tapi saya sudah keburu kecewa duluan lho..resiko ya..saya sih senang jadi ada yang saya ceritakan udah gitu satu angkot sama pria-pria tampan lagi 😉 God bless you deh bapak-bapak dan btw apakabar ya bapak supir taksi yg nurunin saya yg kedua kali tadi? saya kasian sama bapak sebenarnya kalau yang orang pertama tadi mah saya bodo amat udah kesel duluan. Tapi bapak yang udah nunggu 2 jam karna janjian mau menjemput wanita yang lagi ada “urusan sama makhluk asing” itu dan kata bapak belom bayar argo 80ribu? waah saya harap bapak baik-baik saja tidak ditipu. Dan saya gak dendam sama kalian karena kalau saya dendam saya udah ngomong sama atasan kalian dan resiko terbesar kalian bisa dipecat. Tapi saya tidak lakukan karena saya tahu cari pekerjaan di Jakarta susah. Saya juga tidak mau menambah angka pengangguran di Indonesia lagi. Maka dari itu saya pukul rata saja. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua khususnya para petinggi-petinggi kendaraan umum itu.

Terimakasih

Advertisements

2 thoughts on “Caby oh Cab in the middle of Jakarta traffic today = pathetic!

  1. AJ (@HarIequinne) says:

    wew.. serem amat tuh taksi..
    si “biru” skrg jg rada parah..
    seenaknya bawa kita muter trus pura2 begok ga tau jalan..
    perna gw pulang dr TA kena 35rb..
    dibawa sampe slipi gara2 ga merhatiin jalan n sibuk ngobrol..

    jd yang bagus skrg kykna cuman trans cab kali ya..
    paling ga aneh2..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s