attachment

Teruntuk Ralph…

Apakabar? sudah 1 tahun sejak kita saling menyerah satu sama lain. Sekarang, izinkan aku bercerita untukmu. Cerita ini akan terdengar membosankan untukmu tapi paling tidak cukup untuk mengobati penyakit insomniamu ketika kambuh :). Hari ini aku mengikuti kelas filsafat mr. Heinz dengan mengantuk yang tak tertahankan, aku tak mengikutinya dari awal hingga pada akhirnya ia menyebutkan filsafat reinkarnasi. Dalam agama Buddha dipercayai adanya kelahiran kembali.Pada saat jiwa lahir kembali, roh yang utama kekal namun raga kasarlah yang rusak, sehingga roh harus pindah ke badan yang baru untuk menikmati hasil perbuatannya. Alam kelahiran di tentukan oleh karma (perbuatan baik dan buruk) makhluk tersebut . Manusia tak akan luput dari duka selama terikat pada siklus reinkarnasi. Aku yakin kau mulai bosan. Tidak apa-apa..tiba-tiba ingatanku tertuju pada kamu dan tentang kita berpuluh-puluh tahun bahkan beratus-ratus tahun yang lalu.

Aku tak mampu melihat masa lalu apalagi memiliki kemampuan teleportasi yang kuat. Tapi aku yakin kita pernah menikah beratus-ratus tahun yang lalu. Aku ingat waktu aku pertama kali melihatmu, entah kenapa aku merasa pernah dekat denganmu bahkan kau datang seolah kau orang yang aku tunggu dan aku rindukan. Anehnya aku merasa rindu yang tak jelas itu terobati bersamaan ketika kita berjabat tangan di hari perkenalan kita. Sensasi yang belum tentu aku dapatkan ketika berkenalan dengan orang baru.

Aku yakin dulu kita pernah menikah. Ya sangat memungkinkan kalau dahulu kita pernah menjadi suami istri. Ini memang terdengar gila tapi izinkan aku menyelesaikannya dulu. Kamu beratus-ratus tahun itu adalah seorang perempuan cantik. Mungkin tidak secantik seperti yang dikatakan banyak orang tapi setidaknya untukku iya. Tatapan matamu yang feminim paling kusuka tubuhmu mungil tapi kakimu cukup jenjang, kau suka sekali menari, wajahmu yang ceria, dan kau pandai memanggang roti. Semua yang ada di gadis itu masih terlihat di dirimu yang saat ini. Walaupun otot-otot yang terpahat sempurna tepat pada tempatnya telah menutupi tubuh mungil yang dulu pernah kau punya. Tatapanmu juga sudah tak lagi feminim tentunya tapi masih bisa aku dapatkan kelembutan darinya. Adalagi yang membuatku semakin yakin kalau kau dulu adalah perempuan, kau lebih rapi dan terorganisir, aku berantakan. Hebatnya lagi kau masih pintar memasak, kau sering membuatkan sarapan-sarapan terenak.

Sedangkan aku dulunya hanyalah laki-laki yang biasa saja yang kebetulan mengikuti wajib militer untuk keperluan perang. Terlihat pada diriku pada masa sekarang yang penyendiri namun cukup berani untuk mencintaimu di masa lalu dan sekarang yang pasti juga keberanian untuk menuliskan cerita membosankan ini untukmu. Kita adalah 2 pribadi yang berbeda namun kita mencoba untuk menjalani semuanya. Betapa semua itu indah. Kehidupan pernikahan kita beratus-ratus tahun maupun pertemuan kita beratus-ratus kemudian yang berarti 2 tahun yang lalu sebelum aku ditinggal olehmu.

Sekali lagi aku yakin kita pernah menikah beratus-ratus tahun yang lalu karena aku mencintaimu seperti tidak pernah jatuh cinta selama aku hidup tetapi aku merasa seperti jatuh cinta pada seseorang sepertimu jauh sebelum aku hidup seperti sekarang. Seingatku ketika kita masih bersama. Kamulah laki-laki yang namanya aku sebut dihadapan Tuhan sampai memohon bahkan sampai menangis sesunggukan. Tuhan tidak berkata apa-apa. Karena aku yakin kita pernah saling mendampingi dulunya aku merasa inilah alasan Tuhan mempersatukan kita kembali. Ya kita memang bersatu..Aku mengunjungi rumahmu yang jauh di akhir pekan hanya untuk melihat senyum dan mencium aroma tubuh yang selalu aku rindukan dan kau selalu berusaha menyediakan waktu untuk kita bersama. Kau berusaha mengucapkan ucapan selamat tidur yang manis dengan sarana media apapun dan membangunkanku kembali dengan cara yang sama.

Betapa kau banyak mengubah hidupku saat itu. Tak salah ketika aku mengingatmu berkali-kali kau masih ada berbentuk kepingan-kepingan di dalam kepalaku. Mungkin juga ini karena efek aku terlalu memberikan seluruh hati. Ya itu karena kebodohanku terlalu yakin kalau kita telah digariskan untuk hidup bersama. Aku yakin kita berada dalam satu buku tetapi dalam halaman yang berbeda.

Dengar Ralph…percayalah mengingat tentangmu sama saja seperti membuka luka yang telah di bebat mati. Aku sudah bertekad melupakanmu utuh. Tak mau lagi ada sisa-sisa..walau kenyataannya selalu ada dirimu muncul. Walau bagaimanapun kamu pernah mewarnai hidupku. Bukannya aku mau menangisi dan menyesali apa yang sudah terjadi hanya saja kau terlalu cepat untuk pergi Ralph dan sepertinya tidak akan kembali padahal masih ada warna yang belum sempat kita gores kan..maka yang aku lihat sekarang tone warna-warni kemudian tiba2 menjadi abu-abu.

Hey Ralph…aku masih yakin kita pernah menikah dahulu. Keceriaan dan caramu memandangku itu sangat familiar dan tentu masih aku ingat sampai sekarang membuatku tak membutuhkan waktu lama untuk meyakinkan hati pada waktu itu. Kita saling melengkapi satu sama lainnya, walau kita tidak mutual  hingga pada akhirnya kita tidak bersama. Ya kita pernah menikah namun kita berpisah. Kau sekarang disana sedang apa sekarang? aku yakin kau pasti bahagia. Aku pernah meminta Tuhan untuk mengawasimu dekat-dekat supaya seluruh sakit dan kesedihan yang kau alami tak akan berlangsung lama. Tetapi sepertinya sekarang aku tak perlu meminta kepada Tuhan lagi karena sudah pasti kau bahagia, meninggalkanku merupakan salah satu kelegaan bagimu. Aku mengerti maka aku belajar untuk menerimanya sepenuh hati. Kau juga laki-laki kuat, ceria, dan tampan. Mudah bagimu untuk mencari penggantiku yang aku yakini kau sudah memilikinya sekarang. Mungkin untuk kesekian kalinya setelah kita berpisah.

Tak apa Ralph sebagai “reward” Tuhan menyuruh semesta alam sekalian untuk mempertemukanku dengan seseorang yang berjanji mau mewarnai hidupku. Melengkapi warna-warna yang belum sempat kau berikan dan menghapus semua warna abu-abu. Sudah ada dua orang anak yang turut mewarnai hidupku juga. Bagaimana denganmu disana? any kids Ralph?

Sudahlah Ralph cerita ini makin menjemukan.  Kita bertemu seolah kita sudah pernah bertemu dan dekat sebelumnya, Kita juga berpisah seakan kita tak akan pernah bertemu selamanya..tapi aku percaya pasti akan bertemu kamu lagi walau itu beratus-ratus tahun lagi kemudian. Kalau ada kesempatan lagi atau kalau karma ini belum habis, akankah kita bertemu lagi? Aku penasaran seperti apa kita dan kehidupan kita selanjutnya Ralph

Seperti yang sering aku katakan padamu “see you soon”..

-Ashari-

Advertisements

Caby oh Cab in the middle of Jakarta traffic today = pathetic!

Seharusnya saya bukan menulis tentang ini sekarang melainkan mengerjakan deadline untuk design buku bayi dan menyelesaikan cerpen fiksi saya yang bertemakan cinta-cintaan najis bin tak jelas itu (mulai keluar aslinya). Ok fokus dulu..mumpung masih segar dalam ingatan saya tentang kejadian yang kurang mengenakkan yang baru saja saya alami malam ini dalam perjalanan menuju kos-kosan.Jadi pembaca setia atau yang suka baca diam-diam blog saya 😛 kali ini kita santai tapi serius karena demi kepentingan bersama juga.

Jadi tadi tepatnya pukul 8 lewat malam hari di jalan kemang raya tepatnya depan McD saya hendak pulang ke kemanggisan, karena sudah malam saya memutuskan untuk naik taksi Express. Yeah I have to say that i used to trust  this cab (sebelum kejadian ini) because it’s much cheaper than bluebird taxi but they’ve got same good quality (ya walau masih bluebird diatasnya). Tadinya saya mau naik bluebird tapi karena tidak ada yang lewat karena kebetulan jalanan juga lagi macet dan saya ingin pulang maka naiklah saya di taksi ini. Supir taksinya menanyakan saya mau kemana dan saya menjawab tujuan saya lalu dia sempat bercerita kebetulan dia juga mau ke bandara yang juga searah dengan jalan tempat saya tinggal. Saya pikir tadinya tidak akan ada masalah malah kami sempat berbincang dengan baik. Ditengah jalan tiba-tiba si pak supir menanyakan lagi arah tempat biasa saya lewat..saya jelaskan padanya sekilas seperti tidak ada masalah..Ok..namun tiba-tiba disekitar jalan senayan (dekat yang jual tanaman) dia berkata kalau dia tidak sanggup lewat jalan tempat saya tinggal dengan alasan sering macet dan dia mau menjemput orang tuanya segera di bandara yang kemudian malah menepikan taksinya dan menyuruh saya naik taksi dengan “label” sama yang kebetulan sedang “ngetem” dibelakangnya…tapi tetap saya merasa “What the hell you’re freakin (un)profesional! Lo bukan angkot yang bisa seenaknya pindah-pindahin penumpang kemana etika supir taksi itu?!” dan si supir minta maaf pada saya dan menyuruh saya untuk tidak membayar full, harusnya hampir 30rb tetapi saya cuma diminta 20rb (padahal tadinya berniat tidak mau bayar karena kesal melihat gayanya sengak, tapi saya tahan). Saya tetap tenang walau secara tidak langsung dia telah menurunkan saya dipinggir jalan tapi tetap hati ini kecewa atas ke tidak profesionalan si supir taksi itu bahkan saya membanting pintu sebagai ucapan terimakasih saya.

Setelah itu sayapun naik taksi yang supir taksi pertama tunjuk untuk mengantarkan saya pulang. Diperjalanan si supir taksi kedua ini menanyakan apakah jarak dari sini (senayan) kerumah saya memakan waktu 15 menit, lalu saya bilang kalau lewat jalan palmerah melalui hotel mulia saya rasa tidak lama paling macet angkot. Ia lalu becerita “mudah-mudahan masih sempet ya neng…soalnya tadi saya janji jemput sama orang di apartemen senayan jam 9 dan itu udah stengah 9..dia cerita katanya dia lagi ada masalah sama suami nya yang tinggal di bogor udah 5 tahun katanya menikah tapi dia (istrinya) yang banting tulang” saya hanya jawab “oh..” dalam hati perasaan mulai tidak enak alamat diturunin lagi di jalan. Si bapak supir taksi kemudian bercerita lagi “iya neng..saya sih tahu kalau dia di apartemen itu sama orang asing” tidak gitu ngerti..makhluk mars kali ya apa siluman kera? *pret mulai sarap* lalu ia nyambung lagi “saya tuh nungguin dia dari jam 7  malam karena dia belom bayar argo sebelumnya juga neng” perasaan mulai gak enak dan kasian juga si pak supir sih. Sayapun mulai menyiapkan beberapa lembar uang sepuluh ribuan (padahal argo belum sampai 10rb pun) sebagai balasan untuk si bapak kalau dia nanti anterin saya ke kos-kosan dengan selamat 🙂 dan beberapa lembar itu uang adalah uang terakhir saya di dompet karna tadinya saya pikir tidak apa-apalah toh si bapak ini udah mau berkorban.

“neng saya turunin neng di lampu merah di depan sana aja ya?”…”lampu merah yang di palmerah depan maksud bapak?”…bukan yang di depan perempatan situ (deket kampus widuri). Dalam ati Oh God itu kan masih jauuuhhh dan malam pula dan macet daaann tidak terlihat angkot m11 (yang lewat tempat saya tinggal) itu melintas di sekitar situ yang ada cuma m09 yang arah ke kebayoran lama. Saya menengok kebelakang sambil memastikan apakah ada M11 di belakang situ? samar-samar saya lihat ada. Saya berdoa semoga angkotnya tidak terlalu “sunyi” atau berkaca gelap (kejadian alm. Livia alumni binus yang tragis karena angkot beberapa waktu lalu cukup bikin trauma banyak anak cewe di binus). Sementara si supir taksi terus mengeluh akan macet akhirnya tanpa pikir panjang saya minta turun disitu juga (di tepi Jakarta Post). “Beneran neng turun disini aja?..karena deket neng gak usah bayar deh..maaf ya neng soalnya cewe yang tadi saya ceritain belom bayar argo 80rb neeng, dan dia bilang kalau jam 9:15 gak jemput saya ditinggal”…saya gak bisa mikir karena merendam kesal sambil memasukkan kembali uang-uang yang harusnya saya kasih ke supir kedalam tas dan si supir taksi mau putar balik ke senayan lagi, saya setengah teriak “Pak Jangan di puter saya mau turun disini aja!” si bapak terus minta maaf dan bilang terimakasih. Saya cuekin. Akhirnya saya menyetop angkot m11 yang syukurnya gak gitu kosong ataupun penuh, didepannya ada 1 orang terus di belakang 3 ibu-bu dan 2 laki-laki muda yang juga baru pulang kerja beruntungnya saya ganteng pula dua-duanya (biarin aja kesempatan dalam kekesalan).

Akhirnya saya turun di depan persis kosan. Bayar angkot dan langsung bilang makasih sambil senyum sama supir angkotnya. Si bapak supir angkot bingung karna saya tidak ambil kembalian recehan yg ia sodorkan :).  Jalan di Jakarta memang tidak bisa di prediksi. Kalau macet itu memang udah resiko tinggal di ibukota. Saya tidak ada masalah sama kota ini selain dari kemacetan dan tingkah laku manusia-manusia pengendara kendaraan itu sendiri. Mau menggunakan kendaraan itu merupakan pilihan dan sudah ada resiko nya masing-masing. Tidak selamanya naik angkutan umum itu bahaya, tidak selamanya naik kendaraan umum tapi eksklusif (taksi) itu aman, dan tidak semua naik kendaraan pribadi juga nyaman dan aman. Yang paling penting disini kerja sama  kita sesama pengguna jalan umum untuk lebih sabar. Naik kendaraan umum pun mau eksklusif atau non eksklusif seperti angkot dan bis kota sebenarnya punya cerita sendiri ya contohnya seperti  saya ini. Tulisan ini hanya wujud aspirasi saya sebagai pengguna kendaraan umum terutama taksi (khususnya taksi dengan label diatas) betapa etos kerja dan profesionalitas sebagai seorang supir dengan nama label taksi yang cukup terkenal dan cukup baik kali ini cukup buruk di mata saya. Apa jadinya saya kalau tadi berjalan kaki lebih jauh di malam hari?. Saya tidak akan melaporkan 2 supir taksi itu karena menurut saya hari ini mereka sudah cukup sial dengan berkali-kali karena ketidak profesionalan mereka. Saya harap kepada pemilik atau manajer utama dari  perusahaan taksi yang bersangkutan memberi tahu kepada seluruh supir taksi yang ada untuk lebih menyadarkan bahwa mereka di bayar untuk mengantarkan penumpang dengan selamat jika memang tidak bisa mengantar saat itu juga sebaiknya tidak usah membiarkan penumpangnya naik duluan dan sok-sokan mengestimasi waktu perjalanan yang lebih memalukan adalah  alasan menurunkan penumpang yang saat itu sedang naik adalah untuk menjemput orang tua di bandara dan menunggu penumpang yang saya yakini cantik itu selesai dengan “urusan” nya bersama orang asing di apartemen.

Dan sekali lagi untuk semua pemilik dan kepala manajer perusahaan taksi dan terutama taksi Express (maaf sebut merk karena memang kali ini paling mengecewakan) tolong di ingatkan kepada para supir kalau penumpang taksi bukanlah “penumpang” tetapi customer yang menaruh kepercayaan pada taksi-taksi . Bukan sekedar uang yang kami bayar untuk membalas jasa taksi “brand” kalian yang telah mengantarkan kami tetapi lebih dari itu: Kepercayaan. Jangan memperlakukan kami seolah kami tak mau bayar (kecuali supirnya yang minta).

Ini juga menjadi pelajaran untuk saya dan mungkin juga yang lain yang memiliki pekerjaan untuk belajar profesional dan bertanggung jawab atas pekerjaan kita masing-masing apapun itu pekerjaannya. Dari sini saya belajar kalau dikecewakan karena suatu pekerjaan itu juga tidak kalah menyakitkan seperti patah hati :p

Sekian postingan santai tapi serius ini. Tidak ada bermaksud menyinggung tapi lebih mengingatkan demi kepentingan bersama. 🙂

Oh ya..untuk kepada 2 supir taksi yang menurunkan saya dijalan tadi yang terus-terusan meminta maaf. Kalau masalah maaf saya pasti maafin tapi saya sudah keburu kecewa duluan lho..resiko ya..saya sih senang jadi ada yang saya ceritakan udah gitu satu angkot sama pria-pria tampan lagi 😉 God bless you deh bapak-bapak dan btw apakabar ya bapak supir taksi yg nurunin saya yg kedua kali tadi? saya kasian sama bapak sebenarnya kalau yang orang pertama tadi mah saya bodo amat udah kesel duluan. Tapi bapak yang udah nunggu 2 jam karna janjian mau menjemput wanita yang lagi ada “urusan sama makhluk asing” itu dan kata bapak belom bayar argo 80ribu? waah saya harap bapak baik-baik saja tidak ditipu. Dan saya gak dendam sama kalian karena kalau saya dendam saya udah ngomong sama atasan kalian dan resiko terbesar kalian bisa dipecat. Tapi saya tidak lakukan karena saya tahu cari pekerjaan di Jakarta susah. Saya juga tidak mau menambah angka pengangguran di Indonesia lagi. Maka dari itu saya pukul rata saja. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua khususnya para petinggi-petinggi kendaraan umum itu.

Terimakasih