Rumah terakhir


Hallo, namaku Silla dan aku tepat berusia 23 tahun ketika kematianku. Menarik bukan memiliki tanggal kelahiran dan kematian yang sama?, Jangan tanya bagaimana bisa aku begini kalau saja kecelakaan itu tidak terjadi, kalau saja lelaki yang aku cintai setengah mati itu tidak meninggalkanku seperti itu, dan kalau saja mobil besar itu tidak menghantam mobil yang aku kendarai begitu keras paling tidak wajahku tidak banyak lebam lebam dan bekas luka disekujur tubuh. Untungnya aku tidak seperti hantu-hantu yang berwajah mengerikan. Ups! apakah baru saja aku menyebutkan aku ini hantu? Oh tidak, aku tidak suka disebut begitu. Karena aku tidak suka mengganggu apalagi menakut-nakuti mereka yang masih hidup. Walau terkadang ingin rasanya aku menampakkan wujudku didepan gadis-gadis yang menjadi teman kencan kekasihku yang masih bernapas. Ya..aku bukan hantu..hanya arwah yang penasaran.

Malam ini menjelang satu tahun kematianku yang tepat sebulan lagi. Aku memandangi batu nisanku diatas dahan pohon. Aku teringat Liam, laki-laki yang aku cintai tidak pernah mengunjungi makamku bahkan ketika hari aku di makamkan aku tidak melihatnya sedikitpun. Benarkah perdebatan yang berujung pada perkelahian diantara kami beberapa hari sebelumnya membuat dia membenciku? sehingga ketika aku matipun sama sekali tidak berarti baginya? benarkah ada wanita lain yang mengusik hatinya seperti yang dikatakan mereka walaupun ia bersikeras mengatakan tidak? Ah yang jelas aku merindukannya tetapi terlalu gengsi untuk menyapanya duluan apalagi setelah perkelahian itu tapi tetap saja aku rindu setengah mati walaupun aku sendiri sudah mati. Wah! bodohnya aku kenapa tidak langsung mengunjunginya saja, santai saja toh aku sudah tidak terlihat lagi. Akupun melayang menuju sebuah rumah mungil tempat Liam tinggal. Aku memasuki rumah itu dengan mudah. Kudapati sosoknya sedang berkutat dengan rumus-rumus aljabar di ruangan 3×4 itu. Aku mendekatinya yang sedang serius, harum tubuh khasnya masih sama seperti dulu, harum yang aku suka. Rasa rindu itu tak bisa lagi aku bendung, pelan-pelan aku peluk tubuhnya dari belakang dan aku cium tengkuknya dengan lembut, ia pun terkejut seakan mengetahui kehadiranku dan tak lama setelah reaksi itu ia kembali tenggelam dengan kesibukannya. Sepertinya benar, rindu ini belum tuntas. Malam itu aku saksikan ia tertidur diatas meja belajarnya, ia terlihat begitu lelah. Sepertinya esok ia akan menghadapi ujian penting. Hmmm..hhmmm sudah pasti dia tidak memikirkanku malam ini. Tak mengapa aku kembali memeluk tubuhnya yang sedang tertidur. Kutatap wajah lelahnya yang terlelap.

“Maaf ya Liam aku mengganggu aku hanya rindu”.

*********************

Paginya aku lihat Liam sudah berpakaian dengan rapi dan pergi dengan mobilnya. Kemana dia pagi-pagi begini? pikirku. Tak lama kemudian barulah aku teringat dia memang harus kuliah karena ada tes kalau tidak apa guna dia belajar hingga selarut itu tadi malam. Ada baiknya aku menunggu disini. Aku melayang ke ruang tengah duduk di dekat piano tua di rumah mungil ini. Seingatku aku tak pernah lihat Liam menyentuh piano ini apalagi memainkannya. Aku menyentuh salah satu tuts piano memastikan kalau masih berfungsi. Satu nada masih terdengar baik. Aku memainkan beberapa nada. Kemudian berujung pada satu lagu yang aku sendiri tidak tahu lagu apa. hmm..masih berfungsi cukup bagus walau masih harus di stem ulang. Aku menyudahi permainanku karena aku hanya menakuti orang jika aku terus memainkannya. Mungkin lebih baik aku pergi ke suatu tempat sambil menunggu Liam kembali. Tak banyak yang bisa aku lakukan disini selagi Liam tak ada.

**************************************

Malam ini Liam masih belajar seperti kemarin. Dan aku masih memeluknya seperti kemarin-kemarin (ketika semasa aku hidup dan bersamanya inilah yang aku lakukan untuk menenangkannya). Aku seperti kembali hidup dan terbebaskan dari rasa sakit. Tetapi ia belum terlihat seperti memikirkanku. Tiba-tiba ponsel milik Liam berbunyi, salah satu temannya mengajaknya pergi keluar malam ini. Liam mengiyakan sembari mengambil kunci mobilnya. Tidak ada keinginanku untuk mengikutinya. Biarkan saja, pikirku. Walau keinginan untuk memeluknya sampai tertidur lebih besar.

************************************

Beberapa hari kemudian aku menemukan bedak wanita di atas meja di kamar Liam. Tentu bukan punya Liam dan ternyata benar wanita itu ada. Aku melihat wanita itu memeluk Liam dari belakang sama seperti yang biasa aku lakukan padanya. Hatiku benar-benar hancur. Tangisku pecah, aku berteriak dan menangis sekencang-kencangnya. Walaupun aku telah mati tetapi bukan berarti aku mati rasa. Ingin rasanya memunculkan diri di depan muka wanita sialan itu dan menakutinya hingga sakit jantung. Ahhh Liam secepat ini kau melupakanku? aku hanya bisa menangis hingga akhirnya aku tak merasakan diriku sendiri, Entah aku pingsan atau tertidur atau dalam koma? aku tak bisa merasakan apa-apa. Ini lebih sakit daripada mati sekarat setelah kecelakaan itu.

**************************************

Malam berikutnya aku merasa sedikit tenang walaupun masih menangis sesunggukan. Aku hanya bisa menatap Liam dari jauh. Dari ranting pohon mangga yang tertanam di halaman rumahnya. Aku tak kuat bila harus masuk kedalam lagi dan melihat dia bersama wanita itu. Aku hanya bisa menatap kehadirannya dengan sedih karena sudah beberapa hari terakhir aku melihatnya terus bersama kekasih barunya itu. Hanya karena satu impian yang membuat aku bertahan: Kembali memeluknya tanpa terbakar rasa cemburu.

**********

Malam ini aku merasakan damai yang luar biasa entah kenapa. Aku melayang kedepan jendela kamar Liam. Aku melihat dia sendiri, Tidak ada tumpukan buku dan rumus-rumus yang memusingkan dan yang paling membahagiakan tidak ada wanita kekasih barunya itu. Liam sedang tertunduk syahdu di meja kerjanya sepertinya dia sedang berdoa. Ada damai luar biasa yang aku rasakan. Oh..ternyata inilah sumber dari kedamaian itu, dia mendoakanku! masih ada cinta disana! Oh Tuhan terimakasih aku merasakan 2 kali lebih hidup di “kehidupan” kedua ini! Liam menutup doa nya dengan kata amin, sambil menyeka air mata dengan punggung tangannya ia pun tersenyum tenang membuka laci mejanya dan meraih sebuah pigura foto aku dan Liam dulu. Liam menatapnya penuh rasa haru. Akupun menangis bahagia!  Cinta itu masih ada! ya masih ada!. Liam membuka mulutnya seperti berbicara dengan foto itu

“Silla, selamat ulang tahun..maaf akhir cerita kita tidak enak, hingga kita harus kehilangan seperti ini. Maafkan aku tak bisa membawa kamu ke akhir bahagia, aku masih cinta jika kau bertanya sekarang, Silla”

Liam aku disini!!! aku memeluknya erat-erat dari belakang. Ia tercekat seakan merasakan kehadiranku. Tanganku merasakan detak jantungnya di dadanya yang bidang. Liam menutup matanya kemudian meletakkan telapak tangannya tepat di dekat detak jantungnya  seakan dia menyentuh tanganku, seakan dia ingin benar-benar merasakanku di lubuk perasaannya. Tuhan, ini hadiah terindah terimakasih atas kesempatan langka ini. Aku bahagia dan memeluknya seakan tak mau lepas.

******************

Wanita itu, kekasih Liam merusak keheninganku siang ini. Dia berteriak histeris. Wanita itu memaksa Liam sambil menangis untuk segera meninggalkan rumah itu karena sering merasakan kejanggalan seperti pintu yang terbuka dan tertutup dengan sendirinya, TV yang hidup nyala, buku yang berjatuhan, sampai akhirnya hari ini dia melihat piano tua di ruangan tamu yg mungil itu bermain sendiri. Wanita itu sempat-sempatnya mengira bahwa itu semua adalah aku yang sedang terbakar cemburu. Ah tau sendiri aku tak suka menakut-nakuti manusia! kenapa bisa-bisanya dia menuduh aku. Parahnya Liam menuruti keinginan wanita bedebah itu untuk pindah.

Pada malam harinya Liam mengemasi barang-barangnya. Ia berpikir aku yang melakukannya. Ia tak habis pikir kenapa aku begitu cemburu sampai mengganggu kekasihnya. Aku menangis melihat Liam mengemasi barangnya..aku berkata kepadanya bahwa bukan aku yang mengganggu kekasihnya. Sambil berteriak aku mengatakan padanya.

“Liam dengarkan kalau bisa aku celakakan wanita itu, sudah aku lakukan kemarin-kemarin! tapi aku sering melihat tatapanmu itu kepadanya! tatapan yang sama waktu kau masih bersamaku! Kau mencintainya, aku tahu! kau sudah mencintainya sewaktu kau masih bersamaku kan?!”

Aku terkejut sendiri dengan perkataanku, mencintai wanita itu sewaktu masih bersamaku? Akupun berteriak histeris marah tak sengaja aku jatuhkan pigura foto aku dan Liam ke lantai dan pecah. Liam kaget sembari mendekati pigura itu pelan-pelan ia sentuh

“Jadi benar Silla selama ini kamu? maafkan aku  benar aku mencintaimu sama seperti aku mencintainya aku harap kau mengerti dan jangan ganggu kami lagi, aku akan pergi..kau bebas berkeliaran di rumah ini, berbuat onarlah sesukamu disini”.

Aku kembali menangis

Jangan pergi..aku bodoh masih mengharapkanmu..tapi aku mencintaimu sampai aku mati seperti sekarang aku tetap, Liam…please jangan pergi dulu!” percuma, Liam tidak bisa mendengarkanku dunia kita sudah berbeda, sudah tidak ada yang bisa aku lakukan sekarang.

****************************************

3 hari setelah itu aku lihat Liam benar-benar pergi. Sudah tidak ada lagi yang tersisa dirumah mungil itu, kecuali piano tua di ruang tamu. Liam pergi tanpa bisa aku cegah sedikitpun. Aku kembali mati rasa. Aku melayang ke pohon di halaman rumah Liam tempat biasa aku berdiam. Untuk mengusir kebosananku aku mulai “mengganggu” pasangan anak muda yang kebetulan sedang berpacaran di dekat rumah mungil bekas Liam tinggal dan aku mulai menikmati kehidupan baruku sebagai hantu sesungguhnya, aku tidak lagi arwah penasaran karena aku anggap misiku sudah selesai. Oke mungkin belum seutuhnya karna ada kalanya aku kembali menangisi Liam sampai aku lelah sendiri. Untuk mengusirnya kesepian aku melayang kemana pun aku suka. Sepertinya hidupku sudah mulai menyenangkan karena aku mulai jadi pembicaraan orang-orang. Kadangkala aku memergoki beberapa anak muda dengan membawa kamera bermain di kuburanku untuk bertemu langsung denganku ataupun mereka yang sengaja datang ke rumah tempat dulu Liam tinggal. Diantara mereka ada yang kabur, berteriak, dan beberapa diantara mereka ada yang mengajakku berinteraksi walau dengan segala keterbatasan yang sulit aku jelaskan dan jumlah mereka yang bisa tak banyak namun aku tetap senang mengenal mereka yang sedikit itu. Mereka juga senang mendengar ceritaku tentang Liam. Rasanya senang ada manusia yang tertarik mendengar ceritaku.

*******************

Aku melihat seorang pria bergaya ala rocker seperti rolling stone masuk ke rumah Liam. Apakah dia penghuni barunya? ada juga yang berani menempati rumah itu setelah isu tentangku menyebar luas dikalangan masyarakat sini? Ah aku tak begitu peduli..kembali aku merenungi nasibku dan tetap berujung pada Liam? Tidak hari ini tepat satu tahun setelah ia meninggalkan rumah dan tiba-tiba rasa sedih itu muncul lagi? air mataku kembali mengucur. Galau itu kembali menusukku dalam-dalam hingga matahari terbenam, malam sepi kembali merasuki daerah ini. Tak ada orang yang lewat apalagi bisa ditakut-takuti padahal ini malam minggu harusnya banyak yang paling tidak berpacaran atau segerombolan remaja iseng yang penasaran ingin melihat “penampakan” ku. Sepi kembali merasukiku. Sudah sepatutnya aku sebagai arwah gentayangan merasakan ini. Sebagai makhluk yang hidup di dua dunia sudah sepantasnya aku merasakan sepi ini karna tidak mempunyai teman, aku harus terbiasa. Aku melayang ke teras rumah mungil itu. …….teng teng reng teng teng ting ting triiinnngggg…..ada yang bermain piano didalam, memainkan nada sedih yang menikam seluruh perasaanku. Aku menembus pintu dan gelap menyelimuti ruangan, bagaimana orang itu bisa memainkan piano di ruang yang begitu gelap seperti ini? dia buta? tetapi nada-nada itu, perasaanku, Liam, semuanya….aku menangis kali ini tangisku bersuara. Aku kembali melemah. Aku menutup mataku sambil menangis meresapi nada-nada menyedihkan penuh kegalauan itu.

“Heh kamu! Jangan nangis seperti itu! kamu menggangguku tau!” Pria itu menghentikan permainannya. Aku terkejut, ia bahkan dapat melihatku! aku otomatis berhenti menangis saking terkejut dan setengah ketakutan juga ada orang yang langsung tahu akan kehadiranku. “Hey kamu! kenapa diam saja!” Pria itu berkata sambil menjentikkan jemarinya cahayapun kecilpun sedikit menyinari ruangan, pria itu menyunggingkan senyum. Duniaku terhenti.

“Aku Hansen..” sebutnya menyebutkan diri

“Silla…” aku menyebut namaku

“hahaha..aku pernah melihatmu ketika kamu masih hidup, Liam pernah membawamu kesini..dan aku tahu semua kejadian kemarin dan tangis teriakanmu itu”

jelasnya namun aku potong “apakah kau teman dekat dari Liam? dia tidak pernah bercerita tentangmu sepertinya” tanyaku penasaran, Hansen kemudian membuka kancing jaketnya menunjukan dari dada hingga perutnya yang mengenaskan (bayangkan sendiri), ada luka tembakan dan sepertinya lebih dari tiga kali “Hansen kamuuu sudah…??” aku tidak bisa meneruskan kata-kataku tetapi Hansen malah tersenyum nakal dan tertawa “Ini keren banget loh, aku lupa rasa sakitnya, yang jelas aku juga sama seperti kamu”. Aku tak bisa menutupi keterkejutanku bila iya dialah makhluk tertampan yang pernah aku lihat, matanya berwarna hijau dengan rambut kecoklatan pendek berantakan tetapi menarik, kulitnya pucat tetapi tetap menarik, tubuh tinggi tegap namun jelas bukan cetakan pusat kebugaran, “Ayo bicara lagi! jangan diam” Hansen memencahkan keheninganku sepertinya ia merasa tidak nyaman sedang diperhatikan “Sudah berapa lama kamu mati?” tanyaku lagi dan Hansen berpikir sejenak dengan ekspresi muka yang lucu sedang bercanda “eeemm let me think? berapa ya? 100 tahun yang lalu? 50 tahun yang lalu mungkin..tidak tahu aku lupa, belum bisa menemukan kuburanku mungkin itu yang membuatku masih disini hahahha yang jelas aku tetap berusia 24 tahun sampai sekarang” Hansen tertawa renyah. Hansen juga meminta maaf karena berbuat onar dan membuat Liam pergi. Aku bilang padanya tak apa, Liam sudah bahagia bersama wanita itu.

Mulai dari situ aku tidak lagi sendiri di rumah itu. Bayangan akan Liam sudah berangsur-angsur hilang karena hari-hariku disibukkan dengan kehadiran Hansen yang sangat berpengalaman sebagai hantu untuk membuat dirinya sendiri dan aku sibuk. Seperti mengajakku jalan-jalan dari tempat yang ramai yang sering di kunjungi orang sampai ketempat yang hanya aku dan dia yang tahu, mengajariku bermain piano, bermain petak umpet, atau sekedar menciptakan lagu aneh dengan piano dirumah yang juga aku dan dia mengerti maksudnya. Sekali-sekali jika ada “kunjungan” dari gerombolan anak remaja kami yang datang ke rumah mungil ini, kami pun menakut-nakuti mereka bersama dan kami tertawa puas jika berhasil membuat mereka takut. Kami seperti sahabat yang tak terpisahkan. Sekali-sekali ia menghiburku ketika aku merindukan keluargaku. Semua ia lakukan dengan cara-caranya yang aneh dan ajaib. Sudah tak ada lagi air mata kesedihan yang menetes.

********************************

15 tahun berlalu…

“Silla ayo nanti terlambat!” kata Hansen sedikit tergesa “Mau kemana sih emangnya?” Aku melayang mengikuti Hansen dan kemudia turun di dekat makam ku dan sudah ada beberapa orang disana bisa dibilang cukup banyak “ada apa..kok rame ya?” Hansen tersenyum dan berkata “Ini indah..aku cuma mau kau tahu kau gadis beruntung” sudah lama aku tidak kesini, aku melayang mendekati orang-orang itu betapa kagetnya aku disana ada keluargaku yang sedang berdoa dan beberapa teman-temanku. Mereka terlihat lebih tua, bahkan keponakanku, anak-anak dari kakak-kakakku umurnya sudah ada yang tak kurang dari 3 tahun akan sama denganku. Aku memeluk ayah dan ibuku yang aku rindukan mereka sudah tak seperti dulu, keriput sudah ada disana sini tetapi kasih sayang yang selalu awet bersama kami. Aku bahkan menangis dalam senyumku karena bahagia melihat teman-teman baikku tampaknya sudah meraih mimpi mereka masing-masing. Terimakasih Tuhan aku bahagia lagi.

Aku memastikan jauh di belakangku masih ada Hansen yang menungguku menikmati moment ini. Makam ini mungkin menjadi rumah terakhir bagiku. Tetapi di dalam sosok Hansen pria tampan yang betah berbicara tanpa terbatas waktu tanpa bosan, tanpa ada sesuatu yang mendesak, dunia yang kami buat dan hanya kami yang tahu bangaimana, senyum Hansen yang secara terselubung menjadi candu bagiku, kisah-kisahnya yang bagi saya luar biasa.

Aku berjalan mendekati Hansen dan ia langsung bertanya.

“Sudah siap pulang?”

“Kemana?”

“Entah..alam baka mungkin” tawanya pecah membuatku juga tertawa

“Jangan dulu aku masih  mau dengar permainan pianomu yuuk” aku menarik tangannya. Kamu melayang berpegangan tangan.

Kami masih kembali kerumah mungil itu. dimana penghuninya hanya kami berdua. Rumah itu sudah tampak mengerikan karena sudah ditumbuhi semak belukar. Tetapi kami sudah mendekorasi nya sendiri sesuai dengan apa yang kami mau. Bahkan piano ini tidak terdengar false ditangan Hansen. Aku duduk disamping Hansen yang sedang memainkan melodi bahagia yang belum pernah aku dengar sebelumnya.

Bagiku ia warna, persahabatan, cinta, dan rumah.

Advertisements

One thought on “Rumah terakhir

  1. idrusbinharun says:

    segala sesuatu mesti berakhir dengan alasan dan bentuk bagaimana pun. semua akan menghantui kala sunyi memamerkan kekejiannya. dalam ruang dan waktu yang menjijikkan, kita terus bernafas dengan sesekali mendengus. apakah kita kuat atau tidak? galau hanya soal lain dari keberadaan kita di sini sebagai makhluk paling jenaka yang Tuhan ciptakan….

    apapun, selamat, ceritanya ,menarik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s