Rumah terakhir

Hallo, namaku Silla dan aku tepat berusia 23 tahun ketika kematianku. Menarik bukan memiliki tanggal kelahiran dan kematian yang sama?, Jangan tanya bagaimana bisa aku begini kalau saja kecelakaan itu tidak terjadi, kalau saja lelaki yang aku cintai setengah mati itu tidak meninggalkanku seperti itu, dan kalau saja mobil besar itu tidak menghantam mobil yang aku kendarai begitu keras paling tidak wajahku tidak banyak lebam lebam dan bekas luka disekujur tubuh. Untungnya aku tidak seperti hantu-hantu yang berwajah mengerikan. Ups! apakah baru saja aku menyebutkan aku ini hantu? Oh tidak, aku tidak suka disebut begitu. Karena aku tidak suka mengganggu apalagi menakut-nakuti mereka yang masih hidup. Walau terkadang ingin rasanya aku menampakkan wujudku didepan gadis-gadis yang menjadi teman kencan kekasihku yang masih bernapas. Ya..aku bukan hantu..hanya arwah yang penasaran.

Malam ini menjelang satu tahun kematianku yang tepat sebulan lagi. Aku memandangi batu nisanku diatas dahan pohon. Aku teringat Liam, laki-laki yang aku cintai tidak pernah mengunjungi makamku bahkan ketika hari aku di makamkan aku tidak melihatnya sedikitpun. Benarkah perdebatan yang berujung pada perkelahian diantara kami beberapa hari sebelumnya membuat dia membenciku? sehingga ketika aku matipun sama sekali tidak berarti baginya? benarkah ada wanita lain yang mengusik hatinya seperti yang dikatakan mereka walaupun ia bersikeras mengatakan tidak? Ah yang jelas aku merindukannya tetapi terlalu gengsi untuk menyapanya duluan apalagi setelah perkelahian itu tapi tetap saja aku rindu setengah mati walaupun aku sendiri sudah mati. Wah! bodohnya aku kenapa tidak langsung mengunjunginya saja, santai saja toh aku sudah tidak terlihat lagi. Akupun melayang menuju sebuah rumah mungil tempat Liam tinggal. Aku memasuki rumah itu dengan mudah. Kudapati sosoknya sedang berkutat dengan rumus-rumus aljabar di ruangan 3×4 itu. Aku mendekatinya yang sedang serius, harum tubuh khasnya masih sama seperti dulu, harum yang aku suka. Rasa rindu itu tak bisa lagi aku bendung, pelan-pelan aku peluk tubuhnya dari belakang dan aku cium tengkuknya dengan lembut, ia pun terkejut seakan mengetahui kehadiranku dan tak lama setelah reaksi itu ia kembali tenggelam dengan kesibukannya. Sepertinya benar, rindu ini belum tuntas. Malam itu aku saksikan ia tertidur diatas meja belajarnya, ia terlihat begitu lelah. Sepertinya esok ia akan menghadapi ujian penting. Hmmm..hhmmm sudah pasti dia tidak memikirkanku malam ini. Tak mengapa aku kembali memeluk tubuhnya yang sedang tertidur. Kutatap wajah lelahnya yang terlelap.

“Maaf ya Liam aku mengganggu aku hanya rindu”.

*********************

Paginya aku lihat Liam sudah berpakaian dengan rapi dan pergi dengan mobilnya. Kemana dia pagi-pagi begini? pikirku. Tak lama kemudian barulah aku teringat dia memang harus kuliah karena ada tes kalau tidak apa guna dia belajar hingga selarut itu tadi malam. Ada baiknya aku menunggu disini. Aku melayang ke ruang tengah duduk di dekat piano tua di rumah mungil ini. Seingatku aku tak pernah lihat Liam menyentuh piano ini apalagi memainkannya. Aku menyentuh salah satu tuts piano memastikan kalau masih berfungsi. Satu nada masih terdengar baik. Aku memainkan beberapa nada. Kemudian berujung pada satu lagu yang aku sendiri tidak tahu lagu apa. hmm..masih berfungsi cukup bagus walau masih harus di stem ulang. Aku menyudahi permainanku karena aku hanya menakuti orang jika aku terus memainkannya. Mungkin lebih baik aku pergi ke suatu tempat sambil menunggu Liam kembali. Tak banyak yang bisa aku lakukan disini selagi Liam tak ada.

**************************************

Malam ini Liam masih belajar seperti kemarin. Dan aku masih memeluknya seperti kemarin-kemarin (ketika semasa aku hidup dan bersamanya inilah yang aku lakukan untuk menenangkannya). Aku seperti kembali hidup dan terbebaskan dari rasa sakit. Tetapi ia belum terlihat seperti memikirkanku. Tiba-tiba ponsel milik Liam berbunyi, salah satu temannya mengajaknya pergi keluar malam ini. Liam mengiyakan sembari mengambil kunci mobilnya. Tidak ada keinginanku untuk mengikutinya. Biarkan saja, pikirku. Walau keinginan untuk memeluknya sampai tertidur lebih besar.

************************************

Beberapa hari kemudian aku menemukan bedak wanita di atas meja di kamar Liam. Tentu bukan punya Liam dan ternyata benar wanita itu ada. Aku melihat wanita itu memeluk Liam dari belakang sama seperti yang biasa aku lakukan padanya. Hatiku benar-benar hancur. Tangisku pecah, aku berteriak dan menangis sekencang-kencangnya. Walaupun aku telah mati tetapi bukan berarti aku mati rasa. Ingin rasanya memunculkan diri di depan muka wanita sialan itu dan menakutinya hingga sakit jantung. Ahhh Liam secepat ini kau melupakanku? aku hanya bisa menangis hingga akhirnya aku tak merasakan diriku sendiri, Entah aku pingsan atau tertidur atau dalam koma? aku tak bisa merasakan apa-apa. Ini lebih sakit daripada mati sekarat setelah kecelakaan itu.

**************************************

Malam berikutnya aku merasa sedikit tenang walaupun masih menangis sesunggukan. Aku hanya bisa menatap Liam dari jauh. Dari ranting pohon mangga yang tertanam di halaman rumahnya. Aku tak kuat bila harus masuk kedalam lagi dan melihat dia bersama wanita itu. Aku hanya bisa menatap kehadirannya dengan sedih karena sudah beberapa hari terakhir aku melihatnya terus bersama kekasih barunya itu. Hanya karena satu impian yang membuat aku bertahan: Kembali memeluknya tanpa terbakar rasa cemburu.

**********

Malam ini aku merasakan damai yang luar biasa entah kenapa. Aku melayang kedepan jendela kamar Liam. Aku melihat dia sendiri, Tidak ada tumpukan buku dan rumus-rumus yang memusingkan dan yang paling membahagiakan tidak ada wanita kekasih barunya itu. Liam sedang tertunduk syahdu di meja kerjanya sepertinya dia sedang berdoa. Ada damai luar biasa yang aku rasakan. Oh..ternyata inilah sumber dari kedamaian itu, dia mendoakanku! masih ada cinta disana! Oh Tuhan terimakasih aku merasakan 2 kali lebih hidup di “kehidupan” kedua ini! Liam menutup doa nya dengan kata amin, sambil menyeka air mata dengan punggung tangannya ia pun tersenyum tenang membuka laci mejanya dan meraih sebuah pigura foto aku dan Liam dulu. Liam menatapnya penuh rasa haru. Akupun menangis bahagia!  Cinta itu masih ada! ya masih ada!. Liam membuka mulutnya seperti berbicara dengan foto itu

“Silla, selamat ulang tahun..maaf akhir cerita kita tidak enak, hingga kita harus kehilangan seperti ini. Maafkan aku tak bisa membawa kamu ke akhir bahagia, aku masih cinta jika kau bertanya sekarang, Silla”

Liam aku disini!!! aku memeluknya erat-erat dari belakang. Ia tercekat seakan merasakan kehadiranku. Tanganku merasakan detak jantungnya di dadanya yang bidang. Liam menutup matanya kemudian meletakkan telapak tangannya tepat di dekat detak jantungnya  seakan dia menyentuh tanganku, seakan dia ingin benar-benar merasakanku di lubuk perasaannya. Tuhan, ini hadiah terindah terimakasih atas kesempatan langka ini. Aku bahagia dan memeluknya seakan tak mau lepas.

******************

Wanita itu, kekasih Liam merusak keheninganku siang ini. Dia berteriak histeris. Wanita itu memaksa Liam sambil menangis untuk segera meninggalkan rumah itu karena sering merasakan kejanggalan seperti pintu yang terbuka dan tertutup dengan sendirinya, TV yang hidup nyala, buku yang berjatuhan, sampai akhirnya hari ini dia melihat piano tua di ruangan tamu yg mungil itu bermain sendiri. Wanita itu sempat-sempatnya mengira bahwa itu semua adalah aku yang sedang terbakar cemburu. Ah tau sendiri aku tak suka menakut-nakuti manusia! kenapa bisa-bisanya dia menuduh aku. Parahnya Liam menuruti keinginan wanita bedebah itu untuk pindah.

Pada malam harinya Liam mengemasi barang-barangnya. Ia berpikir aku yang melakukannya. Ia tak habis pikir kenapa aku begitu cemburu sampai mengganggu kekasihnya. Aku menangis melihat Liam mengemasi barangnya..aku berkata kepadanya bahwa bukan aku yang mengganggu kekasihnya. Sambil berteriak aku mengatakan padanya.

“Liam dengarkan kalau bisa aku celakakan wanita itu, sudah aku lakukan kemarin-kemarin! tapi aku sering melihat tatapanmu itu kepadanya! tatapan yang sama waktu kau masih bersamaku! Kau mencintainya, aku tahu! kau sudah mencintainya sewaktu kau masih bersamaku kan?!”

Aku terkejut sendiri dengan perkataanku, mencintai wanita itu sewaktu masih bersamaku? Akupun berteriak histeris marah tak sengaja aku jatuhkan pigura foto aku dan Liam ke lantai dan pecah. Liam kaget sembari mendekati pigura itu pelan-pelan ia sentuh

“Jadi benar Silla selama ini kamu? maafkan aku  benar aku mencintaimu sama seperti aku mencintainya aku harap kau mengerti dan jangan ganggu kami lagi, aku akan pergi..kau bebas berkeliaran di rumah ini, berbuat onarlah sesukamu disini”.

Aku kembali menangis

Jangan pergi..aku bodoh masih mengharapkanmu..tapi aku mencintaimu sampai aku mati seperti sekarang aku tetap, Liam…please jangan pergi dulu!” percuma, Liam tidak bisa mendengarkanku dunia kita sudah berbeda, sudah tidak ada yang bisa aku lakukan sekarang.

****************************************

3 hari setelah itu aku lihat Liam benar-benar pergi. Sudah tidak ada lagi yang tersisa dirumah mungil itu, kecuali piano tua di ruang tamu. Liam pergi tanpa bisa aku cegah sedikitpun. Aku kembali mati rasa. Aku melayang ke pohon di halaman rumah Liam tempat biasa aku berdiam. Untuk mengusir kebosananku aku mulai “mengganggu” pasangan anak muda yang kebetulan sedang berpacaran di dekat rumah mungil bekas Liam tinggal dan aku mulai menikmati kehidupan baruku sebagai hantu sesungguhnya, aku tidak lagi arwah penasaran karena aku anggap misiku sudah selesai. Oke mungkin belum seutuhnya karna ada kalanya aku kembali menangisi Liam sampai aku lelah sendiri. Untuk mengusirnya kesepian aku melayang kemana pun aku suka. Sepertinya hidupku sudah mulai menyenangkan karena aku mulai jadi pembicaraan orang-orang. Kadangkala aku memergoki beberapa anak muda dengan membawa kamera bermain di kuburanku untuk bertemu langsung denganku ataupun mereka yang sengaja datang ke rumah tempat dulu Liam tinggal. Diantara mereka ada yang kabur, berteriak, dan beberapa diantara mereka ada yang mengajakku berinteraksi walau dengan segala keterbatasan yang sulit aku jelaskan dan jumlah mereka yang bisa tak banyak namun aku tetap senang mengenal mereka yang sedikit itu. Mereka juga senang mendengar ceritaku tentang Liam. Rasanya senang ada manusia yang tertarik mendengar ceritaku.

*******************

Aku melihat seorang pria bergaya ala rocker seperti rolling stone masuk ke rumah Liam. Apakah dia penghuni barunya? ada juga yang berani menempati rumah itu setelah isu tentangku menyebar luas dikalangan masyarakat sini? Ah aku tak begitu peduli..kembali aku merenungi nasibku dan tetap berujung pada Liam? Tidak hari ini tepat satu tahun setelah ia meninggalkan rumah dan tiba-tiba rasa sedih itu muncul lagi? air mataku kembali mengucur. Galau itu kembali menusukku dalam-dalam hingga matahari terbenam, malam sepi kembali merasuki daerah ini. Tak ada orang yang lewat apalagi bisa ditakut-takuti padahal ini malam minggu harusnya banyak yang paling tidak berpacaran atau segerombolan remaja iseng yang penasaran ingin melihat “penampakan” ku. Sepi kembali merasukiku. Sudah sepatutnya aku sebagai arwah gentayangan merasakan ini. Sebagai makhluk yang hidup di dua dunia sudah sepantasnya aku merasakan sepi ini karna tidak mempunyai teman, aku harus terbiasa. Aku melayang ke teras rumah mungil itu. …….teng teng reng teng teng ting ting triiinnngggg…..ada yang bermain piano didalam, memainkan nada sedih yang menikam seluruh perasaanku. Aku menembus pintu dan gelap menyelimuti ruangan, bagaimana orang itu bisa memainkan piano di ruang yang begitu gelap seperti ini? dia buta? tetapi nada-nada itu, perasaanku, Liam, semuanya….aku menangis kali ini tangisku bersuara. Aku kembali melemah. Aku menutup mataku sambil menangis meresapi nada-nada menyedihkan penuh kegalauan itu.

“Heh kamu! Jangan nangis seperti itu! kamu menggangguku tau!” Pria itu menghentikan permainannya. Aku terkejut, ia bahkan dapat melihatku! aku otomatis berhenti menangis saking terkejut dan setengah ketakutan juga ada orang yang langsung tahu akan kehadiranku. “Hey kamu! kenapa diam saja!” Pria itu berkata sambil menjentikkan jemarinya cahayapun kecilpun sedikit menyinari ruangan, pria itu menyunggingkan senyum. Duniaku terhenti.

“Aku Hansen..” sebutnya menyebutkan diri

“Silla…” aku menyebut namaku

“hahaha..aku pernah melihatmu ketika kamu masih hidup, Liam pernah membawamu kesini..dan aku tahu semua kejadian kemarin dan tangis teriakanmu itu”

jelasnya namun aku potong “apakah kau teman dekat dari Liam? dia tidak pernah bercerita tentangmu sepertinya” tanyaku penasaran, Hansen kemudian membuka kancing jaketnya menunjukan dari dada hingga perutnya yang mengenaskan (bayangkan sendiri), ada luka tembakan dan sepertinya lebih dari tiga kali “Hansen kamuuu sudah…??” aku tidak bisa meneruskan kata-kataku tetapi Hansen malah tersenyum nakal dan tertawa “Ini keren banget loh, aku lupa rasa sakitnya, yang jelas aku juga sama seperti kamu”. Aku tak bisa menutupi keterkejutanku bila iya dialah makhluk tertampan yang pernah aku lihat, matanya berwarna hijau dengan rambut kecoklatan pendek berantakan tetapi menarik, kulitnya pucat tetapi tetap menarik, tubuh tinggi tegap namun jelas bukan cetakan pusat kebugaran, “Ayo bicara lagi! jangan diam” Hansen memencahkan keheninganku sepertinya ia merasa tidak nyaman sedang diperhatikan “Sudah berapa lama kamu mati?” tanyaku lagi dan Hansen berpikir sejenak dengan ekspresi muka yang lucu sedang bercanda “eeemm let me think? berapa ya? 100 tahun yang lalu? 50 tahun yang lalu mungkin..tidak tahu aku lupa, belum bisa menemukan kuburanku mungkin itu yang membuatku masih disini hahahha yang jelas aku tetap berusia 24 tahun sampai sekarang” Hansen tertawa renyah. Hansen juga meminta maaf karena berbuat onar dan membuat Liam pergi. Aku bilang padanya tak apa, Liam sudah bahagia bersama wanita itu.

Mulai dari situ aku tidak lagi sendiri di rumah itu. Bayangan akan Liam sudah berangsur-angsur hilang karena hari-hariku disibukkan dengan kehadiran Hansen yang sangat berpengalaman sebagai hantu untuk membuat dirinya sendiri dan aku sibuk. Seperti mengajakku jalan-jalan dari tempat yang ramai yang sering di kunjungi orang sampai ketempat yang hanya aku dan dia yang tahu, mengajariku bermain piano, bermain petak umpet, atau sekedar menciptakan lagu aneh dengan piano dirumah yang juga aku dan dia mengerti maksudnya. Sekali-sekali jika ada “kunjungan” dari gerombolan anak remaja kami yang datang ke rumah mungil ini, kami pun menakut-nakuti mereka bersama dan kami tertawa puas jika berhasil membuat mereka takut. Kami seperti sahabat yang tak terpisahkan. Sekali-sekali ia menghiburku ketika aku merindukan keluargaku. Semua ia lakukan dengan cara-caranya yang aneh dan ajaib. Sudah tak ada lagi air mata kesedihan yang menetes.

********************************

15 tahun berlalu…

“Silla ayo nanti terlambat!” kata Hansen sedikit tergesa “Mau kemana sih emangnya?” Aku melayang mengikuti Hansen dan kemudia turun di dekat makam ku dan sudah ada beberapa orang disana bisa dibilang cukup banyak “ada apa..kok rame ya?” Hansen tersenyum dan berkata “Ini indah..aku cuma mau kau tahu kau gadis beruntung” sudah lama aku tidak kesini, aku melayang mendekati orang-orang itu betapa kagetnya aku disana ada keluargaku yang sedang berdoa dan beberapa teman-temanku. Mereka terlihat lebih tua, bahkan keponakanku, anak-anak dari kakak-kakakku umurnya sudah ada yang tak kurang dari 3 tahun akan sama denganku. Aku memeluk ayah dan ibuku yang aku rindukan mereka sudah tak seperti dulu, keriput sudah ada disana sini tetapi kasih sayang yang selalu awet bersama kami. Aku bahkan menangis dalam senyumku karena bahagia melihat teman-teman baikku tampaknya sudah meraih mimpi mereka masing-masing. Terimakasih Tuhan aku bahagia lagi.

Aku memastikan jauh di belakangku masih ada Hansen yang menungguku menikmati moment ini. Makam ini mungkin menjadi rumah terakhir bagiku. Tetapi di dalam sosok Hansen pria tampan yang betah berbicara tanpa terbatas waktu tanpa bosan, tanpa ada sesuatu yang mendesak, dunia yang kami buat dan hanya kami yang tahu bangaimana, senyum Hansen yang secara terselubung menjadi candu bagiku, kisah-kisahnya yang bagi saya luar biasa.

Aku berjalan mendekati Hansen dan ia langsung bertanya.

“Sudah siap pulang?”

“Kemana?”

“Entah..alam baka mungkin” tawanya pecah membuatku juga tertawa

“Jangan dulu aku masih  mau dengar permainan pianomu yuuk” aku menarik tangannya. Kamu melayang berpegangan tangan.

Kami masih kembali kerumah mungil itu. dimana penghuninya hanya kami berdua. Rumah itu sudah tampak mengerikan karena sudah ditumbuhi semak belukar. Tetapi kami sudah mendekorasi nya sendiri sesuai dengan apa yang kami mau. Bahkan piano ini tidak terdengar false ditangan Hansen. Aku duduk disamping Hansen yang sedang memainkan melodi bahagia yang belum pernah aku dengar sebelumnya.

Bagiku ia warna, persahabatan, cinta, dan rumah.

Advertisements

The Event: Creative Jam

Akhir pekan kemarin telah diadakan Creative Jam yg bersamaan dengan Toys Invasion 2011. Disini juga mahasiswa-mahasiswa berkumpul membuat stand sendiri untuk menunjukkan karya-karya mereka. Berikut adalah kolaborasi stand antara Ruang Luang (DKV BINUS, dimana saya sekolah) dan DESA RUPA (Trisakti). Mengusung tema warung, cukup senang bisa berkontribusi karya disitu walau sedikit.
Sebagian teman-teman dari Desa Rupa. Mereka manis-manis ya? berbakat pula..ayo dadah dadah duluuuu ^_^

Ini karya saya berupa 4 buah ilustrasi berseri berjudul “strawberry field”.

 Ada perform dari beberapa band juga. Tapi sayang saya cuma sempat memotret satu band saja karena waktu itu batere kamera saya sudah na’as :(. Band hip Metal yang kebetulan pada saat itu sedang berulang tahun yang ke-14 bernama “Keripik Pedeus”. Kebetulan front man dari band ini adalah teman sekaligus dosen menggambar saya. Terus berkarya ya kak Dave bersama Keripik Pedeus dan Bangsat Beriman nya, Maaf fotonya jelek-jelek, masih belajar buat moto-moto panggung gini. *loh jadi curcol*



 

 

 

: )

Gak tau mau gimana menjelaskannya. Hidup akhir-akhir ini random. buku ini itu yang belom sempat terbaca, keinginan untuk membuat suatu karya lagi, menyampah di twitter, pameran di creative jam dan melihat seseorang yang dari dulu saya kagumi dan saya anggap unyu *aw aw aw*, lalu apalagi? hmm menghabiskan waktu bersama teman-teman begundal dan mengenal mereka lebih dalam lagi. Semua hal-hal sederhana itu, terimakasih Tuhan.

Hidup berputar, saya terus berjalan…

Creative Jam

Akhir-akhir ini memang banyak acara seru di Jakarta. Salah satu yang wajib untuk di datangi di akhir pekan ini adalah Creative Jam 2011 . Event ini berlangsung di plaza blok M dari tanggal 15 sampai 17 Juli 2011 sepertinya akan menjadi tempat berkumpulnya para orang-orang kreatif dan juga yang ingin kreatif (karna saya mengaku tidak cukup kreatif). Jika tidak ada rencana di akhir pekan ini atau sedang “random” tidak ada salahnya datang ke event ini, disini nantinya juga ada ajang untuk sharing-sharing bersama. Siapa saja boleh datang..yuuk datang rame-rame. Kalau mau datang sendiri juga tidak apa-apa, nanti disini bisa dapat teman baru juga ^_^

 

 

 

 

Dan ini salah satu yang bikin mupeng aw aw aw….saya suka sekali sama mainan..
Don’t miss it and Be there!

P.S :  “coretan” saya yang berjudul “strawberry field” (yang pernah saya post disini) juga akan disana bersama karya-karya “sadis” dari Ruang Luang DKV BINUS, Desa Rupa Trisakti, dan masih banyak lagi.

 

 

 

Epilepsi pertama


Maaf judulnya tak enak dan tak akan ada hubungannya sama postingan ini..hanya karna itu yang muncul pertama dalam pikiran aku.

Malam ini aku kembali panjatkan doa sambil menangis (lagi)

kali ini saya menangis (sepertinya) bahagia.

karena ada kalian yang aku doakan spesial disana…dan semoga Tuhan mengabulkan..

aku bahagia karna kalian sudah kelihatan bahagia dengan cara kalian masing-masing dan sepertinya Tuhan sudah menyembuhkan luka-luka itu

Kalian sudah terlihat kuat dari sebelumnya. selamat

Hope God erase my pain too..

Hope i can stay any longer with you guys, can i?

=========

Spesial untuk Irena Riyadi dan Alita…tulisan ini dipersembahkan untuk kalian :’ )

what a trip!

Perjalanan bersama warga “kamPEUng”

setelah 3 tahun pergi ke universitas dan kelas yang sama tidak ada salahnya kami meluangkan waktu yang sempit ini untuk bersama.

Melihat keindahan alam dan bergadang untuk bersenang-senang (bukan karna tugas) bersama rupanya sangatlah berharga.

Warga kamPeung di ibaratkan sudah seperti keluarga saya yang lain. Rasanya senang memiliki keluarga lain di ibukota.

Selama bertahun-tahun saya banyak belajar dari warga KamPEUng.

ah..semoga akan ada perjalanan seru lagi bersama 🙂 

pesan saya kepada kalian: “Jangan kapok ya liburan bareng!”

Cibodas, 2 -4 Juli 2011 untuk selamanya

About a “strange” woman who never….

Wanita itu sangat mencintai pria itu di masa lalunya. Mereka yang dahulu kala pernah mesra dan mempunyai kisah cinta sederhana yang tak terlalu lama namun tak mudah dilupakan oleh siapa saja yang pernah merasakan hal yang sama (terlalu panjang untuk diceritakan). Perempuan itu bernama Nancy dan pria itu bernama Fritz. Mereka bertemu disaat yang paling menyenangkan bagi Nancy, yaitu disaat peluncuran buku novel yang di tulis oleh penulis favorit Nancy. Dan pada saat itu matanya tertuju kepada Fritz, laki-laki wajahnya lumayan, bukan lumayan tapi sangat tampan, ya paling tidak untuk Nancy.

Fritz datang kedalam kehidupan Nancy tepat ketika Nancy sedang benar benar sepi. Nancy datang kedalam kehidupan Fritz ketika ia sendiri sedang membutuhkan cinta walaupun ia kerap kali terlihat bersama gadis yang berbeda. Kira-kira itulah keadaan yang menggambarkan Nancy dan Fritz pada awal mereka saling mengenal. Nancy terlihat tidak ada masalah dengan kebiasaan Fritz yang suka berganti gadis seperti itu. Karena apa daya Nancy, sepertinya ia telah jatuh cinta. Fritz pun senantiasa mengisi hari-hari Nancy. Di waktu Nancy yang luang Fritz selalu hadir menemani, dalam keadaan Nancy sedang bersuka Fritz ikut tertawa dan ketika Nancy berduka ia pun mau berbagi, Fritz juga memberikan semua yang tak pernah Nancy dapatkan hal-hal  sampai sesederhana seperti membawakan coklat panas ketika Nancy terserang flu. Mungkinkah Fritz merasakan hal yang sama yang dirasakan Nancy? bagi Nancy angan itu terlalu tinggi untuknya bisa bersamanya saja sudah cukup membuat Nancy bahagia. Dalam pengalamannya ia jarang sekali dekat dengan laki-laki. Bisa di bilang ia tipe wanita yang sulit dekat dengan laki-laki. Tapi jangan berpikir Nancy bukan wanita yang kaku, Nancy sebenarnya adalah pribadi yang menyenangkan dan hangat, mungkin dia hanya pemalu saja.

Semakin hari perasaan Nancy terhadap Fritz pun semakin bersemi, dan disaat yang tepat Fritz memberitahu kalau ia merasakan hal yang sama. Nancy pun menyambut kesempatan itu. Kesempatan untuk benar-benar mencintai dan kembali dicintai oleh lelaki pujaan hatinya. Namun waktu sepertinya berkata lain, pada bulan ke 8 Fritz nyaris tak pernah muncul lagi seperti sebelum-sebelumnya. Fritz memang pernah bilang ia akan pulang ke kota tempat dia berasal untuk menemui orang tuanya tapi dia berjanji akan kembali dan menemui Nancy. Selama 3 bulan tidak ada kabar dari Fritz. Mungkinkah ia meninggalkan Nancy? cinta yang ia tunggu tak kunjung juga datang. Sebulan kemudian barulah ada kabar dari salah satu teman Fritz yang mengenal Nancy, ia menyuruh Nancy kalau ia tak perlu menunggu Fritz lagi. Sudah ada perempuan lain yang menemani Fritz disana. Hatinya pun hancur. Ada kesedihan yang tak bisa dituliskan disini. Namun tak ada penyesalan di hati Nancy walau ia terluka. Di dalam hatinya tetap ada Fritz disitu. Sepertinya dia tidak peduli perasaannya yang sudah terlukai, dia masih merindukan Fritz. Lelaki yang dia cintai tapi telah tega mendustai ketika ia sedang setia.

Nancy tak dapat menyalahkan Fritz atas kejadian ini, ia sadar ia yang mencintainya duluan, telah ia terima semua resikonya. Dia pikir Fritz sudah bahagia dia pun juga harus mencari kebahagiaannya sendiri. Tak lama setelah itu ada yang melamarnya dan ia pun mengiyakan ajakan menikah dengan laki-laki itu walau sebagian hatinya dia ingin menemui Fritz untuk terakhir kalinya melepaskan rasa rindunya baru kemudian mengucapkan selamat tinggal. Setahun setelah pernikahannya, Nancy melahirkan seorang anak. Keadaan Nancy tak cukup baik saat itu. Kondisi fisiknya sangat lemah, katanya ia mengeluarkan banyak darah ketika melahirkan bayinya. Kondisinya tak kunjung membaik ia tak terobati, ia pun menghembuska nafas terakhirnya. Di akhir hayatnya ia masih merindukan Fritz, semua orang tahu itu termasuk laki-laki yang akhirnya menjadi suaminya. Semua orang tahu bahwa Nancy terus mencintai Fritz walau laki-laki itu tidak mencintainya lagi.

Begitulah Nancy mengakhiri ceritanya sambil tersenyum, penuh rasa haru aku menatapnya. Nancy sampai akhir hayatnya tak bisa mengungkapkan kerinduan dan cintanya kepada laki-laki yang berhenti untuk mencintainya dan meninggalkannya tidak juga sampai saat ini. Aku yang tadinya enggan karena takut untuk mendengar ceritanya merasakan hangat di kedua mataku. Nancy bilang selama ini ia telah bersusah payah mencari orang untuk menyampaikan pesannya kepada Fritz. Tetapi kali ini ia tidak meminta tolong padaku. Ia malah pergi.

Mungkin pada saat itu Nancy yang ingin menolongku.

“Tenanglah Nancy di luar sana sudah banyak orang yang tahu dan aku rasa sudah ada yang menyampaikannya dan Fritz tahu tentang luar biasanya hatimu.” kataku

“kau gadis yang kuat daripadaku, jangan menangis lagi”

Itu yang ia sampaikan sebelum akhirnya ia pergi…tak kembali..sebelum aku terbangun dari tidurku ditengah malam yang dingin sebelum azan subuh berkumandang.

Siapa? Nancy? aku melihat se sosok ramah itu keluar dari jendela kamarku.

azan subuh akhirnya berkumandang, saatnya menemui pemilikku yang abadi. aku doakan Nancy perempuan yang tak pernah menyatakan cintanya secara langsung, dan untuk kau yang ingin aku lupakan karna aku tak mau jadi Nancy.