run rabbit run!!!


run rabbit run

 

Pagi ini saya dapat SMS dari seorang teman yang baru saya kenal tahun ini dan tinggal di luar Jakarta

teman: “Ih Jahat!! tau gak nih hari apa?!”

saya: “apa sih?! tauu hari senen”

teman: “bukan senen tapi senin..”

saya: “oh ya lupa senen itu nama pasar di Jakarta..apaan sih?” *saya bodoh ngeladenin ke garingan orang*

teman: “aku ultah!!!!”

saya: “…………………..”

Hanya intermezo

Harusnya sekarang saya bukan nulis disini..tapi mengerjakan tugas liburan yang kalau gak di kerjakan saya terancam waktu tahun baru tidak bisa gabung dengan keluarga saya huhuh tapi mau gimana lagi dong terlalu malas saya ngerjainnya walaupun waktu suka maksain juga.

Seharusnya lagi saya gak nyampah tulisan gak penting disini tetapi saya harus menuliskan review tentang taun 2010 yang sangat bumpy!..terus beberapa foto2 yang harus saya post juga.  Ya nantilah *teruuuss aja nanntii*..saya lagi seneng2nya nih blog walking dari blog satu ke blog laennya..orang-orangnya pun random tapi beberapa dari mereka memang sangat inspiratif sekali terutama lewat bahasa tulisan mereka karna saya sendiri tidak terlalu bagus dalam tulis menulis. Terimakasih ya para bloggers yang cerdas.

Kemaren saya kangen banget sama Geena *lagi* gara-gara baca salah satu postingan blog teman virtual saya yang sedang di NY. Mendadak saya teringat sama Geena karena dulu waktu SMA saya pernah bilang sama dia kalau saya bakal kesana. Tapi semenjak kuliah dan jarang ngobrol sama dia, saya ngerasa New York makin out of reach…makin jauuuuhhh aja terutama akhir-akhir ini saya sering ngerasa gak ada passion sedikit pun. Akhirnya saya pun ngirim offline message ke dia, keluarin semua uneg-uneg yang ada. Saya juga sempet ngobrol ringan sama Danny (temen aku sama Geena, Orang German yang kami kenal di myspace).

Saya makin terharu sama posting si Geena di blog dia..saya gak berharap dia merespon surat-surat yang saya tuliskan buat dia di blog ini. Tapi saya rasa surat yang dia buat untuk saya cukup touchy…ini isi nya

Dear my worthy mate,

i’ve read your letter for times and times because i was speechless. i didn’t know what to say. but now, i know.

Aku ingin berterima kasih atas pelajaran yang kau berikan setiap kita bertemu di Y!M. Setiap ada masalah tentang kelangsungan hidup kita selalu mencari solusi masing-masing. Kadang kala diakhiri dengan perkataan yang tak membuahkan hasil untuk keluar melainkan perkataan yang membentengi diriku untuk tetap tabah. 3-4 tahun lalu disaat aku masih menduduki bangku SMP, aku menemukan sebuah krisis dalam diriku dan kau disana mengatakan padaku bahwa hidup ini keras dan hidup ini tidak adil. Saat itu aku selalu membandingkan diriku dengan temanku yang tak harus memikul beban sepertiku, kau tetap saja berstatus quo; kau terus menghendaki perkataan Nietzsche itu benar. (read: what doesn’t kill you makes you stronger). Sejak itu aku mulai menyebarkan bibit ketabahan dalam diriku yang kini sudah berkembang memasuki masa kedewasaan.

Aku kagum dengan sifatmu yang tabah dan keras non radikal. J’ adore.

Kini aku sudah SMA tahun terakhir, tantangan hidup semakin bergejolak, pendirianku mulai kontradiktif dengan yang lain, semakin lama semakin sedikit manusia sosial. Sudah empat belas tahun kita bersahabat dan kau tidak berubah sedikitpun. Rupamu masih sama, entusiasmu masih sama, dan kau tidak berusaha melupakan kepedulianmu terhadap orang-orang terdekatmu. Kau masih memiliki ketulusan, aku tidak mengatakan kau tidak terpengaruh arus barat yang memaksakan hidup individualis namun kau memilikinya akupun juga, yang membedakan hanyalah takaran. Karena itulah aku sering mencurahkan hari-hariku penuh keceriaan, kebosanan, ketidakpuasan dalam berinteraksi, hingga dunia pelajar.

aku ingat sekali apa yang aku curahkan saat minggu terakhir november mengenai diriku yang muak akan tidak adanya feed back terhadap semua yang aku feed. walaupun kita hidup berkelompok agar terasa nyaman namun itu tidak berlaku padaku. kehidupan berkelompok sangat defisit bagiku. tak membuahkan untung.jika tangisku ditampung, sebuah ember akan penuh dan aku terlihat ‘pathetic’. lalu aku berpikir,” mengapa aku harus bertahan terus?” Batinku berbisik agar lebur dan berjuang sendiri namun aku mempertimbangkannya dengan beberapa hal yang dinilai bermuka dua. akhirnya, aku memutuskan agar tetap berada dalam lingkaran pertemanan namun masih mengingat batas personal. yaitu aku tidak ingin terjun dalam kehidupan orang lain dan mereka juga tidak pernah mengajak untuk terjun bersama. Kuharap caraku mujarab.

kau langsung menanyakan seberapa kesalnya aku.. Dan bagiku cukup jelas.

Kuharap langkah yang kita ambil dapat dipertanggungjawabkan dan seluruh konsikuensi yang dihadapkan tak meluluhkan ketabahan dan tetap sabar. I hope all the things come to us and we stay improving rather than degrading. i have a thought which is out of context; we should spend time much more on us, get to know deeper. the deeper we know about ourselves, the more we can control it from kinds of trials of life.

shall we blessed with happiness and abudance of luck. ❤ ❤ ❤


Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s