embrace the weekend

*Postingan sebelum masuk kelas estetika*

Belum ada rencana seru buat weekend ini. Tapi yang jelas agak lebih santai daripada weekend kemaren yang di abisin di Bandung untuk pasar seni ITB..gila men..crowd nya sampe pusing sendiri but i adore their creativity! mendadak sampai Jakarta insting DIY jadi keluar *tapi ada waktunya gak?* terus akhir-akhir ini jadi sering lihat-lihat blog handmade gitu terus jadi mupeng..

Yang  jelas weekend bakal lebih asyik kalau gak ada tugas. Ya iyalah siapa coba yang mau…*pret* sepertinya melanjutkan kegiatan gambar menggambar adalah pilihan saya yang paling produktif untuk saat ini. Sebenarnya ada banyak gambar yang udah beberapa bulan lalu udah saya bikin tapi belum sempat dimasukin kesini.

ini salah satunya

Watercolor on the a4 paper..selebihnya tetap photoshop yang berbicara *gak mau susah*

teee heee selamat berakhir pekan semuaa

Advertisements

(Tak Ingin) Pisah

#Now Playing – Tak ingin pisah (Nino & Andrea)

Cerita dibawah ini saya ambil dari tulisan teman saya Lalla Pratami. Tidak ada maksud apa-apa selain berbagi berhubung cerita dibawah saya juga pernah mengalaminya. Mungkin diantara kalian juga pernah mengalaminya dan menjadikannya sebuah kisah cinta yang kelam sekaligus indah.  Selamat menikmati tulisan indah dibawah ini.

Kamu bangkit dari dudukmu dengan gelisah. Menghisap rokok dalam-dalam. Nafasmu setengah terengah-engah. “Kenapa?” tanyamu tanpa menatapku.
Aku diam. Menunduk. Menahan tangis.
“Kamu tahu ini semua akan terjadi. Dari awal kita mulai, kamu tahu akan ada bagian ini.”
Kamu membalikkan badanmu. Menatapku lekat-lekat. “Tapi kenapa sekarang?”
Aku terus menunduk. Tidak berani balik menatapmu.
“Karena semakin lama, aku semakin membutuhkanmu. Semakin aku membutuhkanmu, semakin aku susah melepasmu.”

Kamu mematikan rokokmu. Menginjak-injaknya dengan sepatu kanvas kesukaanmu. Badanmu bergerak semakin gelisah. “Kamu tahu berapa besar rasa sayangku kepadamu? Kamu tahu kalau ini terlalu berat untuk dilakukan?”

Aku tahu. Tahu sekali. Aku juga begitu.
Susah payah aku menahan tangis.

“Kamu tahu berapa banyak kenangan indah yang harus dilupakan? Dan kamu tahu untuk melupakan itu semua tidak mudah?”

Aku terus menunduk. Aku tahu, Gadra. Aku tahu sekali. Aku juga begitu.
Kali ini tangisku tak bisa kutahan lagi.

Kamu tertegun melihatku menangis. Kamu duduk lagi di sampingku. Tanganmu mengusap rambutku pelan, mencoba meredakan tangisku. Aku terisak. Mencoba secepat mungkin menghentikan tangisku.
“Maaf, ya.” katamu lirih. “Maaf selalu saja membuatmu harus bersabar karena keegoisanku. Aku hanya belum bisa membayangkan akan hidup tanpa kamu lagi bersamaku.”
Aku menyeka air mataku. “Kita sudah sepakat dari awal, ini yang akan kita pilih sebagai akhir. Aku tak bisa memaksakan kamu menjadi sepertiku, begitu juga denganmu. Aku juga sama sepertimu, merasa berat. Dan rasa sayangku kepadamu lebih dari apa yang kutunjukkan kepadamu, Gadra. Kamu tidak tahu betapa besar sesungguhnya rasa itu.”
Kamu terdiam. Menatapku dengan berbagai macam ekspresi di matamu. Menunggu penjelasan apa lagi yang akan keluar dari mulutku.
“Aku tidak pernah menyuruhmu untuk melupakanku dan kenangan kita. Karena ketika kisah ini mati, hanya dengan kenanganlah kita hidup. And if moving on is so much harder for you, then you could just let me go..”
“Apa menurutmu… cinta kita ini salah?” tanyamu ragu-ragu.
“Tidak ada yang salah dengan mencintai seseorang, Gadra. Aku tidak pernah merasa salah telah mencintaimu. Mungkin yang salah adalah aku membiarkanmu masuk ke dalam hari-hariku. Melepasmu bukan berarti aku tidak mencintaimu lagi. Sekarang, di sini, menurutku adalah waktu yang terbaik untuk pisah. Kali ini, biarkan aku yang egois.”

Kamu goyah. Akhirnya kamu kalah.
“Baiklah.” Ujarmu dengan berat. “Kita pisah.”

Aku mengangguk. Mencoba dengan sebisa mungkin tersenyum. Tersenyum untuk kenangan dan pengalaman indah selama ini denganmu. Juga segala pelajaran yang hanya kudapatkan darimu.

Kamu memelukku erat. Lalu melepasnya, dan pergi.

Tak pernah kembali.

Siapa bilang cinta bisa mengalahkan segalanya?
Di cerita kami, cinta tetap saja kalah.

oleh agama?

Thanks to lalla Pratami for her powerfull story and picture :)…*cinta emang rempong ya la kalau udah begini?*;)

terimakasih kepada teman galau saya malam ini Levina yang sudah menemani saya bercerita tentang kisah cinta masa lalu yang pelik. kegalauan saya berkurang bersamaan dengan air mata yang keluar dan kata-kata yang kita ucap malam ini. Anggap saja lesson learned. ❤

Tak akan ada legenda tanpa kisah cinta yang pedih kan teman-teman?

high school sweetheart

Aku kangen SMA…

ya aku kangen masa-masa yang kata orang masa yang paling indah itu.

hmmm sebagian dari kalian yang tahu gimana aku bencinya sekolah dulu..ya aku emang gak suka sama sistemnya. Tapi percayalah aku juga punya sesuatu yang indah…bagi saya libur ditengah2 jadwal sekolah yang padat itu menyenangkan. Cabut ketika jam pelajaranpun seru. Ok tapi bukan itu yang saya rindukan dari masa SMA saya…tetapi ini:

and this is one of my favorite

iseng-iseng buka deviantart nemu itu semua..ya Allah sumpah ini yang bikin aku kangen waktu sekolah dulu. Semuanya aku gambar waktu aku lagi bosen dikelas atau kalau lagi ga ngapa-ngapain dirumah. Agak bersyukur juga sempet nyobain berbagai mood walau tetap dengan style quirky dan messy..sebenarnya ada beberapa yang aku suka tapi gak bisa dibuka..ya udah deh ini aja dulu. ini aku bikin pada taun 2006 sampe waktu kurang lebih 2008 kalau gak salah ya pokoknya segitu deh..kalau mau liat perkebangannya liat aja di deviantartku. bisa diliat disamping ini.

ngeliat ini aku jadi PD lagi bikin karya2 baru 🙂