danken Sie mein Freund



photo from flickr

Aku hampir tidak tahu aku menulis judul diatas dengan kalimat yang tepat dalam bahasamu. Aku disini bukan untuk menghinamu dengan bahasaku, seperti yang sering aku lakukan ketika kita masih sama-sama “muda” dulu. Ketika MySpace merupakan alat penghubung yang tepat bagi kita. Aku bertemu kamu sekitar 4 tahun yang lalu di MySpace, Seperti orang Jerman pada umumnya kau sangat punya passion dan minat besar terhadap teknologi, watakmu juga dingin tetapi kau sangat ramah. Aku juga cerita kepadamu tentang negaraku yang eksotis dan carut marut tetapi aku sangat mencintainya. Tak lupa pula aku ceritakan tentang passion ku terhadap seni dan desain Juga ketertarikanku kepada tanah eropa yang kau tinggali.

Aku tidak ingat jelas kapan terakhir kali kita saling bercerita, saling memberi kabar, dan saling mengingatkan satu sama lain tentang mimpi-mimpi itu. Mungkin saking lamanya aku jadi lupa. Tetapi pagi ini, sebelum akhirnya aku memutuskan untuk kembali tertidur lelap. “buzz” suara messanger yang halus membuatku menunda sebentar untuk menekan “shut down”. Aku penasaran, rupanya itu kamu (dan aku hampir lupa namamu :)).

“Hey Dini!” Sapamu ramah

“Hey Danny!” berharap aku tidak salah memanggil namamu

“Long time no see, ada apa nih?” tanyamu dalam bahasa inggris

“Aku libur 3 bulan dan harus menjalani semester pendek selama setengah bulan..jadi liburanku terpotong, oh ya bagaimana kabarmu?” curhatku senang.

“Hahaha sudah lumayan itu. Aku hari ini libur satu hari dan aku sudah cukup senang, rasanya aku ingin kembali bekerja saja karna tidak ngapa-ngapain”

Hahahaha kau masih saja seperti dulu. Bedanya kau dulu “study-o-holic” sekarang kau sudah “workaholic” (Padahal kita seumuran). Kau juga memberiku kabar gembira sekaligus menusuk karena kau sekarang sudah punya rumah sendiri walau itu kecil dan juga pekerjaan yang cukup kau cintai. Sedangkan aku disini? aku masih belum tahu nasibku bagaimana kedepannya nanti. Aku bahkan belum mendapat gelar sarjanaku. *kau bilang gelar tak penting ketika kau sudah bisa membiayai hidupmu sendiri, Ya itu di negaramu*

Tapi kau temanku…tepat hari ini kau memanggilku. Kau seakan membawakanku sesuatu, ya sesuatu yang dulu tidak sengaja kutinggalkan. Kau mengembalikan sebuah kotak berisi peta! ya peta perjalanan hidup dan mimpiku yang sebagian besar belum kuisi di bagian atas. Dan dari situ aku bukan hanya merindukanmu tetapi semua yang aku tidak sengaja “aku tinggalkan” kepadamu. Kau bilang kau masih menyimpan semua percakapan kita dari awal, membaca ulangnya tadi malam. Kau juga bila kalau kamu rindukan aku.

Denganmu tadi pagi. Aku melihat tanah eropa tidak begitu jauh dari tempat tinggalku, teman. Aku sudah bilang padamu terang-terangan kalau nanti aku akan menginjak tanah eropa mu yang cantik. Namun responmu sinis dan dingin seperti watak orang-orangmu pada umumnya.

“Eropa tidak sebagus yang kau pikirkan!”

Aku juga tahu. Aku juga membaca buku jadi aku tahu soal perpajakan yang harganya cukup tinggi, biaya hidup yang mahal, musim dingin yang menusuk, sampai beberapa oknum yang suka membantai tanpa ampun. Akan tetapi beri aku kesempatan nanti untuk mengunjungimu. Percayalah..aku mengunjungi kamu dan tanahmu yang angkuh namun cantik bukan untuk meninggalkan tanah air-ku selama-lamanya, Aku terlalu cinta dengan ke eksotisan negaraku sehingga sulit bagi aku untuk meninggalkannya berlama-lama, hanya saja aku ingin tunjukkan kepada dunia kalau aku ada.

Aku bilang padamu “Bukannya bagus hidup penuh dengan resiko agar ada sesuatu yang baru? agar kita menghargai hidup kita lagi dan lagi?”

kau jawab lagi dingin “Ya itu benar..”

tiba-tiba responku spontan “Dan, hanya saja kita berbicara lewat cyber..If we met in the real life, first thing i was gonna do was hug you!” ya aku jujur aku terlalu merindukanmu. aku ingat ketika aku kesal padamu yang gila akan matematika dan komputer. Aku ingat ketika kita lupa kalimat dalam bahasa inggris atau kita sulit mengerti bahkan salah paham, disitulah aku mulai “pissed off” dan memakimu dengan bahasa yang biasa aku gunakan. Tetapi yang terjadi kau tak pernah sedikitpun membalas makianku dengan kata-kata kasar dalam bahasamu, kau hanya terdiam atau membalas dengan sopan memakai bahasa inggris.

“Thank you Dini, you’re kinda sweet” itu katamu yang terakhir tadi pagi sebelum kau pamit pergi.

Special thanks: Untuk kamu yang ada disana, suatu saat aku akan menginjak tanah eropa yang cantik dan penuh misteri, tolong ajarkan apa saja yang baik-baik seperti disiplin dan etos kerja yang sulit kudapatkan disini. maukah?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s